UAS
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS PGRI ADI BUANA SURABAYA
UJIAN AKHIR SEMESTER (UAS)
Mata Kuliah : Teori Sastra
SKS : 3
Angkatan : 2016 kelas B
- Tugas ini harus Saudara kumpulkan saat UAS (Print Out)
Dengan menuliskan identitas
Nama : Nining Mahmudah
NIM : 165200092
Prodi/Angkatan : PBSI / 2016
Alamat Blog : niningmahmudah26.blogspot.com
- Saudara juga wajib mengunggah tugas UAS ini di blog yang telah
saudara buat.
Tugas – tugas terdahulu juga harus sudah diunggah.
Soal :
1. Berdasarkan teori, puisi memiliki lapis makna (the unit of meaning), yaitu subject matter, feeling, tone, total of meaning, dan theme. Jelaskan pengertian – pengertian masing – masing.
2. Analisislah puisi – puisi berikut berdasarkan unsur lapis maknanya!
MALAM ITU
Malam itu aku seperti tercampakkan
Bagai tebu habis disesap dahaga waktu
Ruang menghampa
Sendiri kian menganga
Tak terkira
Di manakah dengus yang mendekatkan gairah
Sedang aromamu berseliweran menguntip raga
Ku eja detak yang merangkak
Bosan berselimut kelam
Adakah peri mengirim isyarat di sunyi
Sedang kepergianmu menebus rindu
Yang tak ku tahu
Ingin ku tinggalkan gelanggang
Menggelandang ke ketiak senyap
Ku tawar – tawar rasa
Muntah ku jilat kembali di lidah
Ah tak sanggup aku rupanya
(M. Shoim Anwar, Januari 2015)
RAMBUTMU
Gelombang mengalir di rambutmu
Basah dipagi itu
Memerah tanpa pewarna
Ku keringkan dengan panas darahku
Sebab padamu telah ku eja sejarah
Yang terpendam dalam larutan
Di luar lurus lapang
Di dalam meliuk kausembunyikan
Biarkanlah apa adanya
Rumputan menjalar indah dipandang
Telah kutemukan cermin hidupku
Pada rambutmu
Saat kujamah di pagi yang basah
(M. Shoim Anwar, Januari 2015)
MENDUNG BERDURI
Balasanmu pendek sekali
Seperti pelepah pisang yang dirajang celurit cemburu
Patahannya menyisakan amis di dada
Mengapa percik getahnya menyiprat ke ladang
Yang kutanam dengan cinta
Cuaca sepanjang hari mengirim mendung berduri
Adakah aku harus berlari
Meninggalkan jejak yang terlanjur mengurai sepi
Pada jemarimu telah ku tulis sekuntum puisi
Sementara sayap – sayap mawar yang gugur minta ku ganti
Biji esok hari
Tapi kilatan – kilatan celuritmu menuding ke dahi
Tanpa kumengerti
(M. Shoim Anwar, Januari 2015)
3. Buatlah sebuah esai (analisis) untuk cerpen “Dalam Kejaran Sang Raksasa” (dalam buku Tahi Lalat di Dada Istri Pak Lurah) berdasarkan teori sastra poskolonial!
Panjang esai minimal empat halaman, spasi tunggal, kerta A-4. Harus menyertakan daftar pustaka dan sumber lain yang dipakai rujukan.
JAWAB:
1. Subject Matter adalah pokok pikiran yang dikemukakan penyair lewat puisi yang diciptakannya. Subject matter berhubungan dengan satuan – satuan pokok pikiran tertentu yang secara khusus membangun sesuatu yang diungkapkan penyair.
Feeling adalah sikap penyair terhadap pokok pikiran yang ditampilkannya. Hal itu mungkin saja terkandung dalam lapis makna puisi sejalan dengan terdapatnya pokok pikiran dalam puisi karena setiap menghadirkan pokok pikiran tertentu manusia pada umumnya juga di latar belakangi oleh sikap tertentu pula.
Tone adalah sikap penyair terhadap pembaca sejalan dengan pokok pikiran yang ditampilkannya. Dalam rangka menganalisis felling dan tone dalam suatu puisi, pembaca akan berhubungan dengan upaya pencarian jawaban dari pertanyaan. “bagaimana sikap penyair terhadap pokok pikiran yang di tampilkannya?” jawaban yang diperoleh mungkin akan berupa sikap keterharuan, kesehdihan, keriangan, semangat, masa bodoh.
Total Of Meaning adalah keseluruhan makna yang terdapat dalam suatu puisi. Penentu totalitas makna puisi didasarkan atas pokok pikiran yang ditampilkan penyair, sikap penyair di dalam pokok pikiran, serta sikap penyair terhadap pembaca. Hasil rangkuman dari keseluruhan itu akan membuahkan totalitas makna dalam suatu puisi yang berbeda dengan sense yang baru memberikan gambaran secara umum saja kepada pembaca.
Theme adalah ide dasar dari suatu puisi yang menjadi inti dari keseluruhan makna dalam suatu puisi. Tema berbeda dengan pandangan moral ataupun message meskipun tema itu dapat berupa sesuatu yang memiliki nilai rohaniah.
2. A. Puisi “Malam Itu”
Dari beberapa tahap yang dikemukakan bahwa dari analisis makna puisi yang berupa semacam struktur puisi. Dari hal tersebut maka analisis lapis ini akan menganalisis puisi yang berjudul “Malam Itu” Karya M. Shoim Anwar.
a. Subject Matter
Pengarang menggambarkan tentang bagaimana penderitaan tokoh aku yang telah dicampakkan, yang mana ia hanya dijadikan teman untuk bersenang – senang saja, setelah itu ia ditinggal pergi. Namun, tokoh aku itu tetap merindukannya. Bahkan orang tersebut tidak sanggup untuk meninggalkannya.
b. Feeling
Dalam puisi tersebut, penyair meletakkan tokoh aku dengan kesedihan dan kesengsaraa karena ditinggal oleh seseorang. Seperti yang ada di dalam kutipan “Bagai tebu habis disesap dahaga waktu”.
c. Tone
Sikap penyair yang dirasakan dalam puisi tersebut adalah rasa kesedihan. Seperti yang ada di dalam kutipan “Ruang menghampa” dan “Sendiri kian menganga”.
d. Total of Meaning
Makna yang terdapat dalam puisi tersebut adalah, tokoh aku yang merasa sedih dan rindu dan membuatnya gelisah.
e. Theme
Tema dalam puisi tersebut adalah “Kegelisahan,terhadap kekasihnya”.
B. Puisi “Rambutmu”
Dari beberapa tahap yang dikemukakan bahwa dari analisis makna puisi yang berupa semacam struktur puisi. Dari hal tersebut maka analisis lapis ini akan menganalisis puisi yang berjudul “Rambutmu” Karya M. Shoim Anwar.
a. Subject Matter
Pengarang menggambarkan tentang bagaimana tokoh aku yang ada di dalam puisi tersebut sedang merayu seorang wanita yang di yakini bahwa seorang wanita tersebut dalam melengkapi hidupnya.
b. Feeling
Dalam puisi tersebut, penyair menempatkan tokoh aku sebagai seorang lelaki yang sedang jatuh cinta kepada seorang wanita sebab rambutnya. Seperti dalam kutipan “Telah kutemukan cermin hidupku” “Pada rambutmu”.
c. Tone
Sikap penyair yang dirasakan dalam puisi tersebut adalah rasa kegembiraan yang sedang jatuh cinta, seperti yang terlihat di dalam kutipan “Sebab padamu telah ku eja sejarah”.
d. Total of Meaning
Makna yang terdapat di dalam puisi tersebut adalah, tokoh aku yang sedang berbunga – bunga telah menemukan seorang wanita yang dapat mengisi kehidupannya.
e. Theme
Tema dalam puisi tersebut adalah “Kasmaran orang yang sedang jatuh cinta”.
C. Puisi “Mendung Berduri”
Dari beberapa tahap yang dikemukakan bahwa dari analisis makna puisi yang berupa semacam struktur puisi. Dari hal tersebut maka analisis lapis ini akan menganalisis puisi yang berjudul “Mendung Berduri” Karya M. Shoim Anwar.
a. Subject Matter
Dalam puisi tersebut pengarang menggambarkan bahwa tokoh aku merasakan suatu keganjalan yang dialami oleh kekasihnya. Seperti dalam kutipan “Balasanmu pendek sekali”.
b. Feeling
Dalam puisi tersebut, penyair menempatkan tokoh aku sebagai seseorang yang merasakan kekecewaan. Seperti yang terdapat dalam kutipan “Mengapa percik getahnya menyiprat ke ladang” dan “Yang kutanam dengan cinta”.
c. Tone
Sikap penyair yang dirasakan dalam puisi tersebut adalah rasa kecewa yang sangat dalam. Seperti yang ada di dalam kutipan “Sementara sayap – sayap mawar yang gugur minta ku ganti” dan “Biji esok hari”.
d. Total of Meaning
Keseluruhan makna yang terdapat di dalam puisi tersebut adalah tokoh aku yang merasa sedih dan kecewa terhadap kekasihnya.
e. Theme
Tema dalam puisi tersebut adalah “Kekecewaan”
3. Hasil Esai (Analisis) Cerpen “Dalam Kejaran Sang Raksasa” (dalam buku Tahi Lalat Di Dada Istri Pak Lurah) berdasarkan Teori Postkolonial.
Poskolonial “posklonial” merupakan turunan dari kata “kolonial”. Istilah colony dalam bahasa Romawi berarti tanah pertanian atau pemukiman. Istilah ini mengacu pada orang-orang Romaawi yang tinggal di negeri-negeri lain, akan tetapi masih sebagai warga Negara Romawi. Oxford English Dictionary menjelaskan pengertian coloni sebagai sebuah pemukiman dalam sebuah negeri baru.., sekelompok orang yang bermukim dalam sebuah lokasi baru dengan membentuk sebuah komunitas yang tunduk atau terhubung dengan Negara asal mereka.
Anthony Appiah mengemukakan tentang adanya persamaan dan perbedaan penggunaan istilah “pasca/pos” pada kedua istilah tersebut, persamaannya adalah pasca/pos sama-sama menaruh perhatian pada persoalan historiografi dan refleksivitas dalam politik representasi cultural, walaupun artikulasi, interpretasi serta penyebaran keduanya memiliki perbedaan. Keduanya juga dianggap memiliki keterkaitan dengan poststrukturalisme dan postmodernisme.
Secara definitive teori postcolonial lahir sesudah kebanyakan Negara-negara terjajah memperoleh kemerdekaannya. Teori poskolonial mencakup seluruh khazanah sastra nasional yang pernah mengalami kekuasaan imperial sejak awal kolonisasi hingga sekarang. Seperti sastra Afrika, Australia, Bangladesh , Canada, Karibia, India, Selandia Baru, Pakistan, Singapura, Sri langka, Malaysia dan Indonesia. Sementara sastra Amerika dinggap sebagai prototype Poskolonial karena sejak abad ke 18 telah mengembangkan konsep sastra Amerika yang dibedakan dengan Sastra Inggris.
Analisis wacana poskolonialis bisa digunakan di satu pihak untuk menelusuri aspek-aspek yang tersembunyi atau sengaja disembunyikan sehingga dapat diketahui bagaimana kekuasaan itu bekerja, di pihak lain membongkar disiplin, lembaga dan ideology yang mendasarinya. Menurut Said, dekonstruksi terhadap wacana-wacana kolonialis penting untuk menyadarkan bangsa Eropah, bahwa teks-teks Orientalis penuh dengan bias-bias cultural.
Pada tahun 1978, Edward Said menerbitkan bukunya yang berjudul erientalism. Buku ini meahirkan kegerahan dan sekaligus pencerahan dalam berbagai disiplin ilmiah seperti kurtural studies, kajian wilayah dan secara khusus melahirkan kajian ilmiah yang dilingkungan akademis dikenal dengan analisis diskursus colonial. Gagasan Edwar Said sangat luas, ia membahas tentang berbagai contest local budaya, sehingga disebut juga dengan “travelling teory’. Bukunya yang berjudul power and culture : interviews with Edward Said merupakan perluasan buku orientalism ditambah dengan wawancaranya. Pemikiran Edwar Said diakui oleh kelompok yang mendukung kajian / discourses colonial dan yang menantangnya, talah meninbulkan pengaruh yangluar biasa bagi analisis kolonialisme dan pemikiran colonial. Lapangan penelitian baru yang dirintis oleh Edward Said dilingkungan dunia akademis, kemudian dikenal dengan teory pascacolonial (postcolonial theory).
Said merasa mendapat manfaat yang besar dari pengalaman hidupnya di Palestina, pendidikannya serta berbagai perbincangannya mengenai budaya dan politik yang akhirnya dapat ia jdikan sebagai inventory yang memperluas gagasannya dan menumbuhkan kesadaran kritis dan humanis. Theory poscolonial muncul sebagai oposisi dari teori kolonoal, yang sering diidentikkan dengan oposisi biner dari colonial atau oksidental. Oksidentalisme (barat) sebagai ikon Negara colonial (penjajah), sedangkan oriental atau timur sebagai Negara-negara yang dijajah (discolonisasi).
Hasil analisis cerpen “Dalam Kejaran Sang Raksasa”
A. Hibriditas
Hibriditas adalah istilah yang dipakai untuk mengacu pada interaksi antara bentuk – bentuk budaya yang berbeda yang dapat menghasilkan pembentukkan budaya dan identitas baru dengan sejarah dan perwujudan tekstual sendiri. Akan tetapi, dalam kajian pascakolonial hibriditas mengacu pada pertukaran silang budaya.
Adapun kutipan dalam cerpen “Dalam Kejaran Sang Raksasa” yang menunjukkan hibriditas adalah sebagai berikut :
“…Raksasa tadi terhambat dan kakinya tertancap. Tapi anehnya, tidak seperti dalam dongeng, beberapa saat tubuh raksasa makin membesar. Hentakan kakinya menimbulkan bunyi mendebam…” (Anwar, 2017 : 169).
Kutipan diatas menunjukkan konsep hibriditas. Yang mana kejadian yang dialami oleh mas win dan istrinya tidak sama seperti yang diceritakan di dongeng timun mas jaman dahulu
B. Mimikri
Bhaba mengatakan bahwa mimikri adalah reproduksi belang – belang subjektifitas Eropa di lingkungan kolonial yang sudah tidak murni, yang tergeser dari asal – usulnya dan terkonfigurasi ulang dalam cahaya sensibilitas dan kegelisahan khusu kolonialisme. Sebenarnya, mimikri lebih dekat dengan olok – olok. Resistensi dapat berupa mimikri yang akan memunculkan olok – olok.
Mimikri juga merupakan sebuah strategi perubahan, peraturan, dan disiplin yang menyesuaikan diri dengan “yang lain” karena mimikri itu memvisualisasikan kekuatan dari wacana kolonial sangat dalam dan mengganggu. Dalam cerpen Dalam Kejaran Sang Raksasa, perilaku mimikri ini terlihat jelas dilakukan oleh tokoh Marsinah. Yang terbukti dalam kutipan sebgai berikut :
“Timas itu senang dengan kamu, Win,” Kata Marsinah beberapa tahun lampau
“Kok tahu?”
“Saya kos di rumahnya dan tidur sekamar. Dia sering membicarakan kamu.” (Anwar, 2017 : 171).
Kutipan tersebut membuktikan bahwa Marsinah mampu menjadi teman cerita dari Timas dan juga mampu menjadi penyampai cerita yang baik untuk Mas Win.
C. Ambivalensi
Ambivalensi diadaptasi dari teori wacana diskursus Kolonial Homi Bhaba yang mendeskripsikan kompleksitas perpaduan antara penerimaan dan penolakkan yang mencirikan hubungan penjajah dan terjajah. Reaksi yang ambivalen muncul disebabkan oleh perilaku subjek kolonial yang bukan hanya dan secara lengkap menantang kolonial. Subjek kolonial di satu sisi menerima kekuasaan tetapi di sisi lain mereka melawan.
Konsep ambivalen dalam cerpen Dalam Kejaran Sang Raksasa terdapat pada tokoh Marsinah yang sempat menjodoh – jodohkan Mas Win dengan Timas ataupun Lusi. Mas Win sempat memberontak, mati kutu dan terdiam dengan semua pernyataan Marsinah kepadanya. Hal ini dapat dibuktikan dalam kutipan
“…Timas itu anak tunggal,. Bapaknya sudah lama meninggal. Kini dia hanya hidup dengan ibunya.”
“Terus aku bisa menunggu dapat warisannya gitu?” aku memotong. (Anwar, 2017 : 171)
“…Aku terdiam mati kutu dihadapan Marsianah” (Anwar, 2017 : 172)
D. Relasi Kuasa (Hegemoni)
Ratna menyatakan bahwa kekuasaan tidak terbentuk secara struktural, melainkan mengalir melalui masyarakat secara kapiler, kekuasaan bukan hanya mengetahui segala – galanya, melainkan karena berasal dari mana. Terdapat banyak relasi kuasa dalam cerpen ini. Pertama,lumpur. Kutipan berikut sebagai bukti adanya hegemoni lumpur kepada seluruh warga
“Lumpur panas yang menyembur dari lubang pengeboran itu terus meneggerus bagian bawah tanggul. Entah sudah berapa kali tanggul cincin itu ambrol.siang dan malam warga sepanjang lingkaran tanggul harus berjaga demi keselamatan mereka” (Anwar, 2017:167).
“Sementara desa – desa di sekitar semburan lumpur makin parah” (Anwar, 2017:176)
Hemogeni yang Kedua adalah antara raksasa dan warga. Yang terdapat dalam kutipan berikut :
“…Timas tak kuasa karena raksasa membetotnya dengan cepat. Marsinah dibunuh dan dimangsa oleh sang raksasa itu.” (Anwar, 2017:173).
“Pipa gas yang tertimbun lumpur itu meledak karena kemuculan sang raksasa dari perut bumi. Bunga api menyambar dan meluluhlantahkan tempat di sekitarnya. Kami terpental.” (Anwar, 2017:175).
E. Konsep Barat dan Timur(Orientalisme Edward Said)
Orientalisme merupakan suatu cara untuk memahami dunia Timur berdasarkan tempatnya yang khusus dalam pengalaman manusia Barat. Timur sebagai tempat – tempat koloni Eropa yang terbesar, sebagai salah satu imajinasinya yang paling dalam dan paling sering muncul tentang “dunia yang lain” menurut Said (Dalam Yasa, 2012:236). Seperti yang ada di dalam kutipan berikut:
“…Timas itu anak tunggal,. Bapaknya sudah lama meninggal. Kini dia hanya hidup dengan ibunya.”
“Terus aku bisa menunggu dapat warisannya gitu?” aku memotong. (Anwar, 2017 : 171)
“…Aku adalah anak laki – laki satu – satunya dalam keluargaku. Ketiga adikku adalah perempuan, dan yang terakhir masih duduk di bangku SMP kelas satu. Aku menjadi tumpuan harapan keluarga…” (Anwar. 2017:172).
Dalam kutipan tersebut terlihat bahwa, adanya perbedaan antara mas Win dan Timas, jika Timas adalah anak tunggal dan sudad pasti akan mendapatkan warisan yang lebih dari cukup. Maka tidak akan sama halnya dengan mas Win, yang justru ia menjadi tumpuan keluarganya. Lalu yang kedua dalam kutipan berikut :
“…Mereka ada yang membantu kami, adapula yang bertamasya melihat penderitaan kami dengan menaiki tanggul dan mengambil gambar dengan kameranya. Ada juga yang berpose mesra saat difoto dengan latar belakang lautan lumpur panas.” (Anwar, 2017:175).
Dalam kutipan tersebut terlihat bahwa, adanya perbedaan antara pengunjung dan korban. yang mana pengunjung masih ada yang bersenang – senang diatar penderitaan korban lumpur tersebut. Dengan cara berfoto – foto dengan menggunakan background lumpur. Sedangkan para warga yang menjadi korban tersebut keadaannya sedang sedih dan berduka.
F. Liyan / Other
Menurut Ashcroft (dalam Yasa, 2012:236) dalam teori poskolonial mengacu pada kaum yang terkolonialisasi yang dimarginalisasikan oleh wacana imperalisme, teridentifikasi dengan pembedaan – pembedaan perlakuan oleh pusat, dan menjadi pusat perhatian dari ‘ego’ dan imperialis.
Dimulai dari adanaya guncangan lumpur panas yang terjadi di desa mas Win. Perlahan – lahan semua mulai habis merata. Hingga warga harus berusaha mempertahankan hidupnya dari lumpur panas tersebut. Dalam cerpen tersebut mas Win lah yang menjadi sorotan untuk cerita itu. Ia menjadi yang utama dalam cerita tersebut.
Simpulan
Dalam cerpen “Dalam Kejaran Sang Raksasa” ini telah terjadi kekuasaan antara lumpur dengan warga di sekitar. Yang mana lumpur tersebut telah meluluhlantahkan seluruh desa – desa, perkebunan, dan tanggul – tanggul para warga. Serta yang kedua adalah antara raksasa dengan para warga. Yang mana para warga harus berjuang untuk mempertahankan hidup mereka dari kejaran raksasa. Namun nyatanya, raksasa tersebut sudah terlanjur memakan banyak korban di desa itu.
Daftar Pustaka
Anwar, M. S. (2017). Tahi Lalat di Dada Istri Pak Lurah. Lamongan: Pustaka Ilalang.
Evita, Nur Firdaus (2016). Lapis Bentuk Struktur Lapis Makna dan Ragam dalam Puisi. Dalam
https://indahnyaberpuisiitu.wordpress.com/2016/02/08/lapis-bentuk-struktur-lapis-makna-dan-ragam-dalam-puisi/ (Diakses pada tanggal 8 Februari 2016)
Lingua (2015). Teori Poskolonial Edward W.Said. Dalam https://linguag3.wordpress.com/2015/01/05/teori-poskolonial-edward-w-said/ (Diakses pada tanggal 17 Juli 2017)
UNIVERSITAS PGRI ADI BUANA SURABAYA
UJIAN AKHIR SEMESTER (UAS)
Mata Kuliah : Teori Sastra
SKS : 3
Angkatan : 2016 kelas B
- Tugas ini harus Saudara kumpulkan saat UAS (Print Out)
Dengan menuliskan identitas
Nama : Nining Mahmudah
NIM : 165200092
Prodi/Angkatan : PBSI / 2016
Alamat Blog : niningmahmudah26.blogspot.com
- Saudara juga wajib mengunggah tugas UAS ini di blog yang telah
saudara buat.
Tugas – tugas terdahulu juga harus sudah diunggah.
Soal :
1. Berdasarkan teori, puisi memiliki lapis makna (the unit of meaning), yaitu subject matter, feeling, tone, total of meaning, dan theme. Jelaskan pengertian – pengertian masing – masing.
2. Analisislah puisi – puisi berikut berdasarkan unsur lapis maknanya!
MALAM ITU
Malam itu aku seperti tercampakkan
Bagai tebu habis disesap dahaga waktu
Ruang menghampa
Sendiri kian menganga
Tak terkira
Di manakah dengus yang mendekatkan gairah
Sedang aromamu berseliweran menguntip raga
Ku eja detak yang merangkak
Bosan berselimut kelam
Adakah peri mengirim isyarat di sunyi
Sedang kepergianmu menebus rindu
Yang tak ku tahu
Ingin ku tinggalkan gelanggang
Menggelandang ke ketiak senyap
Ku tawar – tawar rasa
Muntah ku jilat kembali di lidah
Ah tak sanggup aku rupanya
(M. Shoim Anwar, Januari 2015)
RAMBUTMU
Gelombang mengalir di rambutmu
Basah dipagi itu
Memerah tanpa pewarna
Ku keringkan dengan panas darahku
Sebab padamu telah ku eja sejarah
Yang terpendam dalam larutan
Di luar lurus lapang
Di dalam meliuk kausembunyikan
Biarkanlah apa adanya
Rumputan menjalar indah dipandang
Telah kutemukan cermin hidupku
Pada rambutmu
Saat kujamah di pagi yang basah
(M. Shoim Anwar, Januari 2015)
MENDUNG BERDURI
Balasanmu pendek sekali
Seperti pelepah pisang yang dirajang celurit cemburu
Patahannya menyisakan amis di dada
Mengapa percik getahnya menyiprat ke ladang
Yang kutanam dengan cinta
Cuaca sepanjang hari mengirim mendung berduri
Adakah aku harus berlari
Meninggalkan jejak yang terlanjur mengurai sepi
Pada jemarimu telah ku tulis sekuntum puisi
Sementara sayap – sayap mawar yang gugur minta ku ganti
Biji esok hari
Tapi kilatan – kilatan celuritmu menuding ke dahi
Tanpa kumengerti
(M. Shoim Anwar, Januari 2015)
3. Buatlah sebuah esai (analisis) untuk cerpen “Dalam Kejaran Sang Raksasa” (dalam buku Tahi Lalat di Dada Istri Pak Lurah) berdasarkan teori sastra poskolonial!
Panjang esai minimal empat halaman, spasi tunggal, kerta A-4. Harus menyertakan daftar pustaka dan sumber lain yang dipakai rujukan.
JAWAB:
1. Subject Matter adalah pokok pikiran yang dikemukakan penyair lewat puisi yang diciptakannya. Subject matter berhubungan dengan satuan – satuan pokok pikiran tertentu yang secara khusus membangun sesuatu yang diungkapkan penyair.
Feeling adalah sikap penyair terhadap pokok pikiran yang ditampilkannya. Hal itu mungkin saja terkandung dalam lapis makna puisi sejalan dengan terdapatnya pokok pikiran dalam puisi karena setiap menghadirkan pokok pikiran tertentu manusia pada umumnya juga di latar belakangi oleh sikap tertentu pula.
Tone adalah sikap penyair terhadap pembaca sejalan dengan pokok pikiran yang ditampilkannya. Dalam rangka menganalisis felling dan tone dalam suatu puisi, pembaca akan berhubungan dengan upaya pencarian jawaban dari pertanyaan. “bagaimana sikap penyair terhadap pokok pikiran yang di tampilkannya?” jawaban yang diperoleh mungkin akan berupa sikap keterharuan, kesehdihan, keriangan, semangat, masa bodoh.
Total Of Meaning adalah keseluruhan makna yang terdapat dalam suatu puisi. Penentu totalitas makna puisi didasarkan atas pokok pikiran yang ditampilkan penyair, sikap penyair di dalam pokok pikiran, serta sikap penyair terhadap pembaca. Hasil rangkuman dari keseluruhan itu akan membuahkan totalitas makna dalam suatu puisi yang berbeda dengan sense yang baru memberikan gambaran secara umum saja kepada pembaca.
Theme adalah ide dasar dari suatu puisi yang menjadi inti dari keseluruhan makna dalam suatu puisi. Tema berbeda dengan pandangan moral ataupun message meskipun tema itu dapat berupa sesuatu yang memiliki nilai rohaniah.
2. A. Puisi “Malam Itu”
Dari beberapa tahap yang dikemukakan bahwa dari analisis makna puisi yang berupa semacam struktur puisi. Dari hal tersebut maka analisis lapis ini akan menganalisis puisi yang berjudul “Malam Itu” Karya M. Shoim Anwar.
a. Subject Matter
Pengarang menggambarkan tentang bagaimana penderitaan tokoh aku yang telah dicampakkan, yang mana ia hanya dijadikan teman untuk bersenang – senang saja, setelah itu ia ditinggal pergi. Namun, tokoh aku itu tetap merindukannya. Bahkan orang tersebut tidak sanggup untuk meninggalkannya.
b. Feeling
Dalam puisi tersebut, penyair meletakkan tokoh aku dengan kesedihan dan kesengsaraa karena ditinggal oleh seseorang. Seperti yang ada di dalam kutipan “Bagai tebu habis disesap dahaga waktu”.
c. Tone
Sikap penyair yang dirasakan dalam puisi tersebut adalah rasa kesedihan. Seperti yang ada di dalam kutipan “Ruang menghampa” dan “Sendiri kian menganga”.
d. Total of Meaning
Makna yang terdapat dalam puisi tersebut adalah, tokoh aku yang merasa sedih dan rindu dan membuatnya gelisah.
e. Theme
Tema dalam puisi tersebut adalah “Kegelisahan,terhadap kekasihnya”.
B. Puisi “Rambutmu”
Dari beberapa tahap yang dikemukakan bahwa dari analisis makna puisi yang berupa semacam struktur puisi. Dari hal tersebut maka analisis lapis ini akan menganalisis puisi yang berjudul “Rambutmu” Karya M. Shoim Anwar.
a. Subject Matter
Pengarang menggambarkan tentang bagaimana tokoh aku yang ada di dalam puisi tersebut sedang merayu seorang wanita yang di yakini bahwa seorang wanita tersebut dalam melengkapi hidupnya.
b. Feeling
Dalam puisi tersebut, penyair menempatkan tokoh aku sebagai seorang lelaki yang sedang jatuh cinta kepada seorang wanita sebab rambutnya. Seperti dalam kutipan “Telah kutemukan cermin hidupku” “Pada rambutmu”.
c. Tone
Sikap penyair yang dirasakan dalam puisi tersebut adalah rasa kegembiraan yang sedang jatuh cinta, seperti yang terlihat di dalam kutipan “Sebab padamu telah ku eja sejarah”.
d. Total of Meaning
Makna yang terdapat di dalam puisi tersebut adalah, tokoh aku yang sedang berbunga – bunga telah menemukan seorang wanita yang dapat mengisi kehidupannya.
e. Theme
Tema dalam puisi tersebut adalah “Kasmaran orang yang sedang jatuh cinta”.
C. Puisi “Mendung Berduri”
Dari beberapa tahap yang dikemukakan bahwa dari analisis makna puisi yang berupa semacam struktur puisi. Dari hal tersebut maka analisis lapis ini akan menganalisis puisi yang berjudul “Mendung Berduri” Karya M. Shoim Anwar.
a. Subject Matter
Dalam puisi tersebut pengarang menggambarkan bahwa tokoh aku merasakan suatu keganjalan yang dialami oleh kekasihnya. Seperti dalam kutipan “Balasanmu pendek sekali”.
b. Feeling
Dalam puisi tersebut, penyair menempatkan tokoh aku sebagai seseorang yang merasakan kekecewaan. Seperti yang terdapat dalam kutipan “Mengapa percik getahnya menyiprat ke ladang” dan “Yang kutanam dengan cinta”.
c. Tone
Sikap penyair yang dirasakan dalam puisi tersebut adalah rasa kecewa yang sangat dalam. Seperti yang ada di dalam kutipan “Sementara sayap – sayap mawar yang gugur minta ku ganti” dan “Biji esok hari”.
d. Total of Meaning
Keseluruhan makna yang terdapat di dalam puisi tersebut adalah tokoh aku yang merasa sedih dan kecewa terhadap kekasihnya.
e. Theme
Tema dalam puisi tersebut adalah “Kekecewaan”
3. Hasil Esai (Analisis) Cerpen “Dalam Kejaran Sang Raksasa” (dalam buku Tahi Lalat Di Dada Istri Pak Lurah) berdasarkan Teori Postkolonial.
Poskolonial “posklonial” merupakan turunan dari kata “kolonial”. Istilah colony dalam bahasa Romawi berarti tanah pertanian atau pemukiman. Istilah ini mengacu pada orang-orang Romaawi yang tinggal di negeri-negeri lain, akan tetapi masih sebagai warga Negara Romawi. Oxford English Dictionary menjelaskan pengertian coloni sebagai sebuah pemukiman dalam sebuah negeri baru.., sekelompok orang yang bermukim dalam sebuah lokasi baru dengan membentuk sebuah komunitas yang tunduk atau terhubung dengan Negara asal mereka.
Anthony Appiah mengemukakan tentang adanya persamaan dan perbedaan penggunaan istilah “pasca/pos” pada kedua istilah tersebut, persamaannya adalah pasca/pos sama-sama menaruh perhatian pada persoalan historiografi dan refleksivitas dalam politik representasi cultural, walaupun artikulasi, interpretasi serta penyebaran keduanya memiliki perbedaan. Keduanya juga dianggap memiliki keterkaitan dengan poststrukturalisme dan postmodernisme.
Secara definitive teori postcolonial lahir sesudah kebanyakan Negara-negara terjajah memperoleh kemerdekaannya. Teori poskolonial mencakup seluruh khazanah sastra nasional yang pernah mengalami kekuasaan imperial sejak awal kolonisasi hingga sekarang. Seperti sastra Afrika, Australia, Bangladesh , Canada, Karibia, India, Selandia Baru, Pakistan, Singapura, Sri langka, Malaysia dan Indonesia. Sementara sastra Amerika dinggap sebagai prototype Poskolonial karena sejak abad ke 18 telah mengembangkan konsep sastra Amerika yang dibedakan dengan Sastra Inggris.
Analisis wacana poskolonialis bisa digunakan di satu pihak untuk menelusuri aspek-aspek yang tersembunyi atau sengaja disembunyikan sehingga dapat diketahui bagaimana kekuasaan itu bekerja, di pihak lain membongkar disiplin, lembaga dan ideology yang mendasarinya. Menurut Said, dekonstruksi terhadap wacana-wacana kolonialis penting untuk menyadarkan bangsa Eropah, bahwa teks-teks Orientalis penuh dengan bias-bias cultural.
Pada tahun 1978, Edward Said menerbitkan bukunya yang berjudul erientalism. Buku ini meahirkan kegerahan dan sekaligus pencerahan dalam berbagai disiplin ilmiah seperti kurtural studies, kajian wilayah dan secara khusus melahirkan kajian ilmiah yang dilingkungan akademis dikenal dengan analisis diskursus colonial. Gagasan Edwar Said sangat luas, ia membahas tentang berbagai contest local budaya, sehingga disebut juga dengan “travelling teory’. Bukunya yang berjudul power and culture : interviews with Edward Said merupakan perluasan buku orientalism ditambah dengan wawancaranya. Pemikiran Edwar Said diakui oleh kelompok yang mendukung kajian / discourses colonial dan yang menantangnya, talah meninbulkan pengaruh yangluar biasa bagi analisis kolonialisme dan pemikiran colonial. Lapangan penelitian baru yang dirintis oleh Edward Said dilingkungan dunia akademis, kemudian dikenal dengan teory pascacolonial (postcolonial theory).
Said merasa mendapat manfaat yang besar dari pengalaman hidupnya di Palestina, pendidikannya serta berbagai perbincangannya mengenai budaya dan politik yang akhirnya dapat ia jdikan sebagai inventory yang memperluas gagasannya dan menumbuhkan kesadaran kritis dan humanis. Theory poscolonial muncul sebagai oposisi dari teori kolonoal, yang sering diidentikkan dengan oposisi biner dari colonial atau oksidental. Oksidentalisme (barat) sebagai ikon Negara colonial (penjajah), sedangkan oriental atau timur sebagai Negara-negara yang dijajah (discolonisasi).
Hasil analisis cerpen “Dalam Kejaran Sang Raksasa”
A. Hibriditas
Hibriditas adalah istilah yang dipakai untuk mengacu pada interaksi antara bentuk – bentuk budaya yang berbeda yang dapat menghasilkan pembentukkan budaya dan identitas baru dengan sejarah dan perwujudan tekstual sendiri. Akan tetapi, dalam kajian pascakolonial hibriditas mengacu pada pertukaran silang budaya.
Adapun kutipan dalam cerpen “Dalam Kejaran Sang Raksasa” yang menunjukkan hibriditas adalah sebagai berikut :
“…Raksasa tadi terhambat dan kakinya tertancap. Tapi anehnya, tidak seperti dalam dongeng, beberapa saat tubuh raksasa makin membesar. Hentakan kakinya menimbulkan bunyi mendebam…” (Anwar, 2017 : 169).
Kutipan diatas menunjukkan konsep hibriditas. Yang mana kejadian yang dialami oleh mas win dan istrinya tidak sama seperti yang diceritakan di dongeng timun mas jaman dahulu
B. Mimikri
Bhaba mengatakan bahwa mimikri adalah reproduksi belang – belang subjektifitas Eropa di lingkungan kolonial yang sudah tidak murni, yang tergeser dari asal – usulnya dan terkonfigurasi ulang dalam cahaya sensibilitas dan kegelisahan khusu kolonialisme. Sebenarnya, mimikri lebih dekat dengan olok – olok. Resistensi dapat berupa mimikri yang akan memunculkan olok – olok.
Mimikri juga merupakan sebuah strategi perubahan, peraturan, dan disiplin yang menyesuaikan diri dengan “yang lain” karena mimikri itu memvisualisasikan kekuatan dari wacana kolonial sangat dalam dan mengganggu. Dalam cerpen Dalam Kejaran Sang Raksasa, perilaku mimikri ini terlihat jelas dilakukan oleh tokoh Marsinah. Yang terbukti dalam kutipan sebgai berikut :
“Timas itu senang dengan kamu, Win,” Kata Marsinah beberapa tahun lampau
“Kok tahu?”
“Saya kos di rumahnya dan tidur sekamar. Dia sering membicarakan kamu.” (Anwar, 2017 : 171).
Kutipan tersebut membuktikan bahwa Marsinah mampu menjadi teman cerita dari Timas dan juga mampu menjadi penyampai cerita yang baik untuk Mas Win.
C. Ambivalensi
Ambivalensi diadaptasi dari teori wacana diskursus Kolonial Homi Bhaba yang mendeskripsikan kompleksitas perpaduan antara penerimaan dan penolakkan yang mencirikan hubungan penjajah dan terjajah. Reaksi yang ambivalen muncul disebabkan oleh perilaku subjek kolonial yang bukan hanya dan secara lengkap menantang kolonial. Subjek kolonial di satu sisi menerima kekuasaan tetapi di sisi lain mereka melawan.
Konsep ambivalen dalam cerpen Dalam Kejaran Sang Raksasa terdapat pada tokoh Marsinah yang sempat menjodoh – jodohkan Mas Win dengan Timas ataupun Lusi. Mas Win sempat memberontak, mati kutu dan terdiam dengan semua pernyataan Marsinah kepadanya. Hal ini dapat dibuktikan dalam kutipan
“…Timas itu anak tunggal,. Bapaknya sudah lama meninggal. Kini dia hanya hidup dengan ibunya.”
“Terus aku bisa menunggu dapat warisannya gitu?” aku memotong. (Anwar, 2017 : 171)
“…Aku terdiam mati kutu dihadapan Marsianah” (Anwar, 2017 : 172)
D. Relasi Kuasa (Hegemoni)
Ratna menyatakan bahwa kekuasaan tidak terbentuk secara struktural, melainkan mengalir melalui masyarakat secara kapiler, kekuasaan bukan hanya mengetahui segala – galanya, melainkan karena berasal dari mana. Terdapat banyak relasi kuasa dalam cerpen ini. Pertama,lumpur. Kutipan berikut sebagai bukti adanya hegemoni lumpur kepada seluruh warga
“Lumpur panas yang menyembur dari lubang pengeboran itu terus meneggerus bagian bawah tanggul. Entah sudah berapa kali tanggul cincin itu ambrol.siang dan malam warga sepanjang lingkaran tanggul harus berjaga demi keselamatan mereka” (Anwar, 2017:167).
“Sementara desa – desa di sekitar semburan lumpur makin parah” (Anwar, 2017:176)
Hemogeni yang Kedua adalah antara raksasa dan warga. Yang terdapat dalam kutipan berikut :
“…Timas tak kuasa karena raksasa membetotnya dengan cepat. Marsinah dibunuh dan dimangsa oleh sang raksasa itu.” (Anwar, 2017:173).
“Pipa gas yang tertimbun lumpur itu meledak karena kemuculan sang raksasa dari perut bumi. Bunga api menyambar dan meluluhlantahkan tempat di sekitarnya. Kami terpental.” (Anwar, 2017:175).
E. Konsep Barat dan Timur(Orientalisme Edward Said)
Orientalisme merupakan suatu cara untuk memahami dunia Timur berdasarkan tempatnya yang khusus dalam pengalaman manusia Barat. Timur sebagai tempat – tempat koloni Eropa yang terbesar, sebagai salah satu imajinasinya yang paling dalam dan paling sering muncul tentang “dunia yang lain” menurut Said (Dalam Yasa, 2012:236). Seperti yang ada di dalam kutipan berikut:
“…Timas itu anak tunggal,. Bapaknya sudah lama meninggal. Kini dia hanya hidup dengan ibunya.”
“Terus aku bisa menunggu dapat warisannya gitu?” aku memotong. (Anwar, 2017 : 171)
“…Aku adalah anak laki – laki satu – satunya dalam keluargaku. Ketiga adikku adalah perempuan, dan yang terakhir masih duduk di bangku SMP kelas satu. Aku menjadi tumpuan harapan keluarga…” (Anwar. 2017:172).
Dalam kutipan tersebut terlihat bahwa, adanya perbedaan antara mas Win dan Timas, jika Timas adalah anak tunggal dan sudad pasti akan mendapatkan warisan yang lebih dari cukup. Maka tidak akan sama halnya dengan mas Win, yang justru ia menjadi tumpuan keluarganya. Lalu yang kedua dalam kutipan berikut :
“…Mereka ada yang membantu kami, adapula yang bertamasya melihat penderitaan kami dengan menaiki tanggul dan mengambil gambar dengan kameranya. Ada juga yang berpose mesra saat difoto dengan latar belakang lautan lumpur panas.” (Anwar, 2017:175).
Dalam kutipan tersebut terlihat bahwa, adanya perbedaan antara pengunjung dan korban. yang mana pengunjung masih ada yang bersenang – senang diatar penderitaan korban lumpur tersebut. Dengan cara berfoto – foto dengan menggunakan background lumpur. Sedangkan para warga yang menjadi korban tersebut keadaannya sedang sedih dan berduka.
F. Liyan / Other
Menurut Ashcroft (dalam Yasa, 2012:236) dalam teori poskolonial mengacu pada kaum yang terkolonialisasi yang dimarginalisasikan oleh wacana imperalisme, teridentifikasi dengan pembedaan – pembedaan perlakuan oleh pusat, dan menjadi pusat perhatian dari ‘ego’ dan imperialis.
Dimulai dari adanaya guncangan lumpur panas yang terjadi di desa mas Win. Perlahan – lahan semua mulai habis merata. Hingga warga harus berusaha mempertahankan hidupnya dari lumpur panas tersebut. Dalam cerpen tersebut mas Win lah yang menjadi sorotan untuk cerita itu. Ia menjadi yang utama dalam cerita tersebut.
Simpulan
Dalam cerpen “Dalam Kejaran Sang Raksasa” ini telah terjadi kekuasaan antara lumpur dengan warga di sekitar. Yang mana lumpur tersebut telah meluluhlantahkan seluruh desa – desa, perkebunan, dan tanggul – tanggul para warga. Serta yang kedua adalah antara raksasa dengan para warga. Yang mana para warga harus berjuang untuk mempertahankan hidup mereka dari kejaran raksasa. Namun nyatanya, raksasa tersebut sudah terlanjur memakan banyak korban di desa itu.
Daftar Pustaka
Anwar, M. S. (2017). Tahi Lalat di Dada Istri Pak Lurah. Lamongan: Pustaka Ilalang.
Evita, Nur Firdaus (2016). Lapis Bentuk Struktur Lapis Makna dan Ragam dalam Puisi. Dalam
https://indahnyaberpuisiitu.wordpress.com/2016/02/08/lapis-bentuk-struktur-lapis-makna-dan-ragam-dalam-puisi/ (Diakses pada tanggal 8 Februari 2016)
Lingua (2015). Teori Poskolonial Edward W.Said. Dalam https://linguag3.wordpress.com/2015/01/05/teori-poskolonial-edward-w-said/ (Diakses pada tanggal 17 Juli 2017)
Komentar
Posting Komentar