Analisis Cerpen Tahi Lalar di Dada Istri Pak Lurah dengan Menggunakan Teori Poskolonial
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis ucapkan kepada Allah SWT yang telah memberikan Rahmat dan Karunia Nya kepada penulis sehingga berhasil menyelesaikan makalah ini tepat pada waktunya.
Dalam penulisan makalah ini, penulis menyadari bahwa dalam mengupas perkembangan peserta didik di dalam makalah ini masih banyak kekurangan, baik dalam hal sistematika maupun teknik penulisannya. Kiranya tiada lain karena keterbatasan kemampuan dan pengalaman penulis yang belum luas dan mendalam. Oleh karena itu, segala saran dan kritik yang membangun tentunya penulis harapkan, sebagai masukan yang berharga demi kemajuan penulis di masa mendatang.
Demikianlah makalah ini, penulis berharap makalah ini dapat bermanfaat bagi penulis khususnya, bagi pembaca umumnya,
Surabaya, 3 April 2017
Penulis
DAFTAR ISI
halaman
Kata Pengantar i
Daftar Isi ii
Bab I Pendahuluan 1
A. Latar Belakang 1
B. Rumusan Masalah 1
C. Tujuan Masalah 2
Bab II Pembahasan 3
A. Pengertian Teori Poskolonial 3
B. Analisis Cerpen Tahi Lalat di Dada Pak Lurah 8
Bab III Penutup 9
Kesimpulan 9
Daftar Pustaka 10
BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Teori postkolonial lahir sesudah kebanyakan negara-negara terjajah memeperoleh kemerdekaannya.teori postkolonial mencakup seluruh khazanah sastra nasional yang pernah mengalami kekuasaan imperial sejak awal kolonisasi hingga sekarang. Analisis wacana postkolonial bisa digunakan,disatu pihak untuk menelusuri aspek-aspek yang tersembunyi atau sengaja disembunyikan,sehingga dapat diketahui bagiman kekuasaan itu bekerja,dipihak lain membongkar disiplin,lembaga,dan ideologi yang mendasarinya.dalam hubungan inilah peraanan bahasa,sastra,dan kebudayaan pada umumnya dapat memainkan peran. sebab,didalam ketiga gejala tersebutlah mengandung wacana-wacana kolonialis penting untuk menyadarkan bangsa eropa. Sesuai dengan ciri-ciri negara kolonial yang membatasi kebebasan berpikir bagi masyarakat yang dikuasainya,demikian juga bentuk ilmu pengetahuan,maka terjadilah stagnasi dan bahkan kemunduran dalam semua aspek kehidupan.Salah satu periode sastra indonesia modern ,yaitu balai pustaka,dimana pemerintah kolonial terlibat secara langsung dalam proses penciptaan,sebagai lembaga sensor,diduga mengandung aspek-aspek yang banyak dikaji melalui teori postkolonial.dalam hubungan ini teori postkolonial identik dengan teori postmodernisme dan postruktruralisme.perbedaanya,apabila teori postmodernisme dan postruktruralisme dimanfaatkan untuk memhami gejala kultural secara universal.teori postkolonial memusatkan pada visi dan misi kolonial sebagaimana terkandung dalam unit-unit wacana kolonial.ciri penting lainnya adalah kenyataan bahwa secara definitif teori postkolonial dimanfaatkan untuk menganalisis khazanah kultural yang menceritakan peristiwa-peristiwa yang terjadi dinegara-negara pascakolonial.
Rumusan Masalah
Dari latar belakang tersebut dapat diperoleh rumusan masalah sebagai berikut.
Apa yang dimaksud dengan teori poskolonial ?
Analisislah cerpen Tahi Lalat di Dada Istri Pak Lurah menggunakan teori poskolonial ?
Tujuan Masalah
Dari rumusan masalah diatas dapat diperoleh tujuan sebagai berikut.
Untuk mengetahui apa itu teori poskolonial.
Untuk mengetahui analisis teori poskolonial pada cerpen Tahi Lalat di Dada Istri Pak Lurah.
BAB II
PEMBAHASAN
Teori Poskolonial
Poskolonial “posklonial” merupakan turunan dari kata “kolonial”. Istilah colony dalam bahasa Romawi berarti tanah pertanian atau pemukiman. Istilah ini mengacu pada orang-orang Romaawi yang tinggal di negeri-negeri lain, akan tetapi masih sebagai warga Negara Romawi. Oxford English Dictionary menjelaskan pengertian coloni sebagai sebuah pemukiman dalam sebuah negeri baru.., sekelompok orang yang bermukim dalam sebuah lokasi baru dengan membentuk sebuah komunitas yang tunduk atau terhubung dengan Negara asal mereka.
Anthony Appiah mengemukakan tentang adanya persamaan dan perbedaan penggunaan istilah “pasca/pos” pada kedua istilah tersebut, persamaannya adalah pasca/pos sama-sama menaruh perhatian pada persoalan historiografi dan refleksivitas dalam politik representasi cultural, walaupun artikulasi, interpretasi serta penyebaran keduanya memiliki perbedaan. Keduanya juga dianggap memiliki keterkaitan dengan poststrukturalisme dan postmodernisme.
Secara definitive teori postcolonial lahir sesudah kebanyakan Negara-negara terjajah memperoleh kemerdekaannya. Teori poskolonial mencakup seluruh khazanah sastra nasional yang pernah mengalami kekuasaan imperial sejak awal kolonisasi hingga sekarang. Seperti sastra Afrika, Australia, Bangladesh , Canada, Karibia, India, Selandia Baru, Pakistan, Singapura, Sri langka, Malaysia dan Indonesia. Sementara sastra Amerika dinggap sebagai prototype Poskolonial karena sejak abad ke 18 telah mengembangkan konsep sastra Amerika yang dibedakan dengan Sastra Inggris.
Analisis wacana poskolonialis bisa digunakan di satu pihak untuk menelusuri aspek-aspek yang tersembunyi atau sengaja disembunyikan sehingga dapat diketahui bagaimana kekuasaan itu bekerja, di pihak lain membongkar disiplin, lembaga dan ideology yang mendasarinya. Menurut Said, dekonstruksi terhadap wacana-wacana kolonialis penting untuk menyadarkan bangsa Eropah, bahwa teks-teks Orientalis penuh dengan bias-bias cultural.
Pada tahun 1978, Edward Said menerbitkan bukunya yang berjudul erientalism. Buku ini meahirkan kegerahan dan sekaligus pencerahan dalam berbagai disiplin ilmiah seperti kurtural studies, kajian wilayah dan secara khusus melahirkan kajian ilmiah yang dilingkungan akademis dikenal dengan analisis diskursus colonial. Gagasan Edwar Said sangat luas, ia membahas tentang berbagai contest local budaya, sehingga disebut juga dengan “travelling teory’. Bukunya yang berjudul power and culture : interviews with Edward Said merupakan perluasan buku orientalism ditambah dengan wawancaranya. Pemikiran Edwar Said diakui oleh kelompok yang mendukung kajian / discourses colonial dan yang menantangnya, talah meninbulkan pengaruh yangluar biasa bagi analisis kolonialisme dan pemikiran colonial. Lapangan penelitian baru yang dirintis oleh Edward Said dilingkungan dunia akademis, kemudian dikenal dengan teory pascacolonial (postcolonial theory).
Said merasa mendapat manfaat yang besar dari pengalaman hidupnya di Palestina, pendidikannya serta berbagai perbincangannya mengenai budaya dan politik yang akhirnya dapat ia jdikan sebagai inventory yang memperluas gagasannya dan menumbuhkan kesadaran kritis dan humanis. Theory poscolonial muncul sebagai oposisi dari teori kolonoal, yang sering diidentikkan dengan oposisi biner dari colonial atau oksidental. Oksidentalisme (barat) sebagai ikon Negara colonial (penjajah), sedangkan oriental atau timur sebagai Negara-negara yang dijajah (discolonisasi). Istilah orientalisme menurut Edward Said dapat didefinisikan dengan tiga cara yang berbeda.
Memandan orientalisme sebagai mode atau paradigma berpikir epistemology dihasilkan (dikonstruksi) oleh bentuk tertentu kekuasaan dan pengetahuan colonial.
Orientalisme dapat juga dipahami sebagai gelar akademis untuk menggambarkan serangkaian lembaga, vdisiplin dan kegiatan ilmiah terdapat pada universitas barat yang peduli pada kajian masyarakat dan kebudayaan masyarakat timur.
Melihat orientalisme sebagai lembaa resmi yang pada hakikaya peduli pada timur.
Menurut Said, orientalisme pada awalnya muncul dalam kristianitas sebagai konsep pentin misionaris dan control mereka pada yang lain melalui pengetahuan. Suatu discoursus dimana konsep kepentingan, kekuasaan dengan pengetahun melebur, pandangan ini akhirnya meruntuhkan konsep epistimologi pondasional (positipis) terutama tentang ilmu bebas nilai. Orientalisme adalah kultur timur sebagai hal yang kontras dengan kultur barat. Apa yang disebut sebagai esensi timur adalah objek discoursus colonial yang berlawanan dengan barat yang tidak terlepas dari pengaruh kuasa dan pengetahuan. Jadi orientalisme dilihat sebagai teori kekuasaan despotis, yang tidak memahami adanya diferensiasi budaya dalam masyarakat timur (generalisasi). Timur melibatkn teori seksualitas dan sensualitas dalam kedaok teori asketisme yang dikontraskan dengan penolakan kemewahan dan tuntutan asketisme spiritualitas. Orientalisme Prancis, menusut Edward Said, menekankan pada masalah seksualitas, sensualitas dan irasionalitas dalam discoursus orientalisme.
Edward Said merasakan bagaimana rakyat Palestina yang terjajah dan kesetiaannya pada Palestina. Ketajaman analisisnya berhasil menyingkap teori pasca colonial yang semula terpokus pada masalah colonialism, kemudian melebar memasuki dunia ilmiah. Said memngemukakan arti orientalisme dalam tiga wilayah yang saling tumpang tindih.
Orientalisme menciptakan sejarah pahit yang panjang hubungan antara Eropa dan Asia Afrika.
Hal ini juga menciptakan bidang-bidang ilmu yang sejak awal abad ke 19 sebagai spesialis dalam bahasa dan kebudayaan oriental.
Colonialisme menciptakan stereotype – stereotype dan dan ideology tentang “the orient” yang diidentikkan dengan “The Other” atau yang lain “ The Occident” (the self).
Pandangan ini telah dikonstruksi oleh beberapa generasi sarjana-sarjana barat secara turun temurun. Misalnya tentan kemalasan, kecurangan, ketidakmampuan berpikir rasional, orang-orang timur, termasuk didalamnya sikap perlawanan mereka dengan dunia islam.
Dalam konteks orientalisme dan kekuasaan barat untuk memasuki dan meneliti Negara dan budaya timur, dibuka kesempatan bagi mereka untuk memiliki serangkaian pengetahuan tantang kebudayaan-kebudayan tersebut. Kemudian pengetahuan itu menjamin dan melanggenkan kekuasaan barat di Negara-negara tersebut. Minat para orientalis akan bentuk – bentuk pengetahuan ilmiah, seperti Sejarah, Linguistik, Seni, Geograpi, Antropologi, dll yang muncul dalam zaman pencerahan melahirkan ilmu pengetahuan yang memenuhi semangat dan selera ara orientalis, dan kemudian ini menjdi contoh bagi pengetahuan yang negative, membeda-bedakan dan mendominasi. Melalui kritik terhadap ilmu pengetahuan dengan menggunakan persfektif “the other”, maka tokoh pascacolonial juga mengonstruksi bentuk-bentuk pengetahuan baru yang lebih baik dengan menghormati dan menghargai pihak-pihak lain.
Kritik tajam Edward Said juga memunculkan kritik pedas lagi dengan alasan kurang didukung teori. Akan tetapi, ketika dekonstruksi banyak dibicarakan, pemikiran said menjulang dan semakin dikenal. Studi feminis dan kritik pascakolonial adalah contoh yang sangat menarik dan sangat relevan untuk konstruktivisme. Walaupun dalam pembahasan ini tidak begitu dibicarakan permasalahan metodologinya, akan tetapi berbagai metode seperti pos/pascastruktural, etnometodologi, semiotic dan dekonstruksi dapat dilakukan untuk studi ini. Bagaimana ilmu pengetahuan yang berkembang terkait dengan konteks, terkait dengan konsep atau teori yang kita gunakan, dan juga terkait dengan sejarah serta dengan minat dan kekuasaan, semua itu ditunjukkan dalam paradigm konstruktivisme. Konstruktivisme memberikan pemahaman yang mendasar akan berbagai bidang ilmu, khususnya social-budaya yang berbeda dengan pendekatan positivism.
Edward Said mengemukakan perlunya pemahaman tentang permasalahan filosofis yang sangat kompleks dalam penafsiran budaya lain. Pendapat said ini jelas dipengaruhi Faucault dimana konstruksi kaum orientalis lebih merupakan konstruksi wacana daripada sebuah dialog antar dua budaya yang sederajat, dengan mengasumsikan bahwa dialog lebih menekankan rasionalitas dan pencapaian kesepakatan yang menempatkan pihak yang berdialog pada posisi yang sejajar dari pada posisi hegemoni dan represif.
Baik “timur” atau ”Barat” merupakan hasil konstruksi idea tau gagasan berkaitan dengan sebuah realitas social-budaya. Said menghubungkan teori wacana, hubungan kuasa dan pengetahuan untuk perjuangan masyarakat dan politik dalam kehidupan sehari-hari. Dalam buku Orientalisme, said menunjukkan bagaimana imaji barat tentang Timur, dan bagaimana kuasa dan pengetahuan saling kait-mengait dalam tulisan-tulisan kaum orientalis. Dalam essainya, the world, the text, and the critic, said melakukan penelitian dan menyingkap tentang keterkaitan teks dengan konteks atau ‘keduniawian’ teks. Anggapan tentang objektivisme teks atau penafsiran objektif sebenarnya mengabaikan hubungan antara teks dengan konteks.
Pada bagian penutup buku orientalisme yang diterbitkan ulang tahun 1995 ini pula, Edward Said mengemukakan bahwa hadirnya revolusi kesadaran yang luar biasa dalam kesadaran kaum perempuan, kaum minoritas, serta golongan marjinal berpengaruh secara langsung pada pemikiran mainstream di seluruh dunia. Tampilanya kajian orientalisme ternyata begitu dramatis, sehingga menyedot perhatian semua orang yang secara serius peduli dengan kajian budaya yang teoritis dan ilmiah. Seperti Said Edward Sapir membongkar epistemology orientalisme sambil membuka pintu poskolonial (isme) ; konsep wacana Foucault, serta sastra sebagai medium pembaruan moral dari Gramsci digunakan untuk mengungkapkan ideologi-ideologi kelompok sosial.
Kritik Said jelas memosisikannya sebagai pendukung “Timur” atau “yang lain” dengan kepasifannya, kurang mengungkapkan dan mendiskusikannya, serta tidak pula memperhitungkan bagaimana cara-cara indigenous Timur itu menggunakan, memanipulasi dan mengonstruksi respon-respon positipnya sendiri dalam menantang kolonialisme dengan menggunakan konsep-konsep orientalis.
Melalui penafsiran karya karya besar seperti heart of darkness Conrad, Edward Said menunjukkan bagaimana politik dan kebudayaan saling bekerja sama, baik secara sengaja maupun tidak, yang pada akhirnya melahirkan suatu system dominasi yang bukan hanya melibatkan kekuatan militer dan serdadu yang melampaui bentuk kiasan dan imajinasi sang penguasa dan yang dikuasai. Hasilnya adalah visi yang menegaskan bahwa bangsa Eropa (barat) berhak, bahkan wajib untuk berkuasa. Argument Said adalah kekuasaan imperialism barat selalu menghadapi perlawanan. Ia meneliti adanya saling ketergantungan antara wilayah-wilayah cultural dimana kaum penjajah dan kaum terjajah hidup bersama dan saling berperang.
Teori pascakolonial Edward Said yang dikemukakan melalui bukunya Orientalisme: western conception of the Orient dan Cultural and Imperialisme telah menggoncangkan pemikiran dunia. said menggulirkan kritik pedas terhadap pandangan, konsep dan konstruksi ahli barat tentang Timur. Serta bagaimana wacana-wacana ilmiah (wacana orientalis) telah melegitimasi agresi kaum kolonialis serta supremasi politik dunia barat.
Edward Said mengemukakan bahwa Orientalisme berkaitan dengan tiga fenomena yang saling berkaitan. Pertama, seorang orientalis adalah yang mengajarkan, orang yang menulis tentang, atau meneliti dunia timur. Baik ia seorang Antropolog, Sosiolog, Sejarawan atau filolog. Orientalis adalah ahli ataw ilmuan Barat yang mengklaim memiliki ilmu pengetahuan dan otoritas ilmiah untuk memahami budaya Timur. Kedua, Orientalisme mengacu pada perbedaan dua model pemikiran yang didasarkan pada Ontologi dan Epistemologi yang berbeda. Ketiga. Orientalisme dapat dilihat sebagai institusi yang berbadan hokum untuk menghadapi Timur, menjustifikasi pandangan tentang Timur, mendeskripsikannya, serta menguasainya. Orientalisme adalah cara barat untuk mendominasi, merestrukturasi dan menguasai Timur
Analisis Cerpen Tahi Lalat Di Dada Istri Pak Lurah
Pada cerpen “ Tahi Lalat di Dada Istri Pak Lurah” karya M. Shoim Anwar terdapat unsur kekusaan yang dilakukan oleh pak lurah. Ia menggunakan kekuasaannya untuk mengambil ladang warga dan mengubahnya menjadi perumahan mewah. Warga yang tanahnya strategis yang di incarnya. Melalui bantuan Pak Bayan atau sekretaris desa yang merayu warga agar menjual tanahnya dengan harga yang lumayan mahal. Setelah tanahnya terlepas dari pemiliknya, Pak Lurah dan Pak Bayan bekerja sama mencari keuntungan berlipat dari persantase diam-diam antara mereka dan pihak pembeli yang akhirnya menjadikan mereka bertambah kaya dari hari ke hari. Terkadang Pak Bayan juga menggunakan kalimat yang berupa intimidasi dan ancaman untuk menakuti warga agar menyerahkan tanahnya.
Selain itu unsur poskolonial juga terdapat pada bagian dimana Pak Lurah ingin kembali menjabat sebagai lurah dengan mencalonkan diri lagi pada pemilihan calon lurah berikutnya. Tak ada yang bisa mencegahnya, Ia selalu melontar janji – janji palsu untuk memajukan desa. Mungkin karena dengan berita Pak Lurah kembali mencalonkan diri, membuat gosip tentang tahi lalat di dada istri Pak Lurah semakin hangat dibicarakan. Ini pasti ada kaitannya dengan unsur politik.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Istilah ini mengacu pada orang-orang Romaawi yang tinggal di negeri-negeri lain, akan tetapi masih sebagai warga Negara Romawi. Oxford English Dictionary menjelaskan pengertian coloni sebagai sebuah pemukiman dalam sebuah negeri baru.., sekelompok orang yang bermukim dalam sebuah lokasi baru dengan membentuk sebuah komunitas yang tunduk atau terhubung dengan Negara asal mereka.
DAFTAR PUSTAKA
https://endonesa.wordpress.com/2008/09/08/puisi-definisi-dan-unsur-unsurnya/
https://id.wikipedia.org/wiki/Puisi)
http://www.artikelsiana.com/2015/10/pengertian-puisi-ciri-jenis-jenis-unsur.html
Puji syukur penulis ucapkan kepada Allah SWT yang telah memberikan Rahmat dan Karunia Nya kepada penulis sehingga berhasil menyelesaikan makalah ini tepat pada waktunya.
Dalam penulisan makalah ini, penulis menyadari bahwa dalam mengupas perkembangan peserta didik di dalam makalah ini masih banyak kekurangan, baik dalam hal sistematika maupun teknik penulisannya. Kiranya tiada lain karena keterbatasan kemampuan dan pengalaman penulis yang belum luas dan mendalam. Oleh karena itu, segala saran dan kritik yang membangun tentunya penulis harapkan, sebagai masukan yang berharga demi kemajuan penulis di masa mendatang.
Demikianlah makalah ini, penulis berharap makalah ini dapat bermanfaat bagi penulis khususnya, bagi pembaca umumnya,
Surabaya, 3 April 2017
Penulis
DAFTAR ISI
halaman
Kata Pengantar i
Daftar Isi ii
Bab I Pendahuluan 1
A. Latar Belakang 1
B. Rumusan Masalah 1
C. Tujuan Masalah 2
Bab II Pembahasan 3
A. Pengertian Teori Poskolonial 3
B. Analisis Cerpen Tahi Lalat di Dada Pak Lurah 8
Bab III Penutup 9
Kesimpulan 9
Daftar Pustaka 10
BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Teori postkolonial lahir sesudah kebanyakan negara-negara terjajah memeperoleh kemerdekaannya.teori postkolonial mencakup seluruh khazanah sastra nasional yang pernah mengalami kekuasaan imperial sejak awal kolonisasi hingga sekarang. Analisis wacana postkolonial bisa digunakan,disatu pihak untuk menelusuri aspek-aspek yang tersembunyi atau sengaja disembunyikan,sehingga dapat diketahui bagiman kekuasaan itu bekerja,dipihak lain membongkar disiplin,lembaga,dan ideologi yang mendasarinya.dalam hubungan inilah peraanan bahasa,sastra,dan kebudayaan pada umumnya dapat memainkan peran. sebab,didalam ketiga gejala tersebutlah mengandung wacana-wacana kolonialis penting untuk menyadarkan bangsa eropa. Sesuai dengan ciri-ciri negara kolonial yang membatasi kebebasan berpikir bagi masyarakat yang dikuasainya,demikian juga bentuk ilmu pengetahuan,maka terjadilah stagnasi dan bahkan kemunduran dalam semua aspek kehidupan.Salah satu periode sastra indonesia modern ,yaitu balai pustaka,dimana pemerintah kolonial terlibat secara langsung dalam proses penciptaan,sebagai lembaga sensor,diduga mengandung aspek-aspek yang banyak dikaji melalui teori postkolonial.dalam hubungan ini teori postkolonial identik dengan teori postmodernisme dan postruktruralisme.perbedaanya,apabila teori postmodernisme dan postruktruralisme dimanfaatkan untuk memhami gejala kultural secara universal.teori postkolonial memusatkan pada visi dan misi kolonial sebagaimana terkandung dalam unit-unit wacana kolonial.ciri penting lainnya adalah kenyataan bahwa secara definitif teori postkolonial dimanfaatkan untuk menganalisis khazanah kultural yang menceritakan peristiwa-peristiwa yang terjadi dinegara-negara pascakolonial.
Rumusan Masalah
Dari latar belakang tersebut dapat diperoleh rumusan masalah sebagai berikut.
Apa yang dimaksud dengan teori poskolonial ?
Analisislah cerpen Tahi Lalat di Dada Istri Pak Lurah menggunakan teori poskolonial ?
Tujuan Masalah
Dari rumusan masalah diatas dapat diperoleh tujuan sebagai berikut.
Untuk mengetahui apa itu teori poskolonial.
Untuk mengetahui analisis teori poskolonial pada cerpen Tahi Lalat di Dada Istri Pak Lurah.
BAB II
PEMBAHASAN
Teori Poskolonial
Poskolonial “posklonial” merupakan turunan dari kata “kolonial”. Istilah colony dalam bahasa Romawi berarti tanah pertanian atau pemukiman. Istilah ini mengacu pada orang-orang Romaawi yang tinggal di negeri-negeri lain, akan tetapi masih sebagai warga Negara Romawi. Oxford English Dictionary menjelaskan pengertian coloni sebagai sebuah pemukiman dalam sebuah negeri baru.., sekelompok orang yang bermukim dalam sebuah lokasi baru dengan membentuk sebuah komunitas yang tunduk atau terhubung dengan Negara asal mereka.
Anthony Appiah mengemukakan tentang adanya persamaan dan perbedaan penggunaan istilah “pasca/pos” pada kedua istilah tersebut, persamaannya adalah pasca/pos sama-sama menaruh perhatian pada persoalan historiografi dan refleksivitas dalam politik representasi cultural, walaupun artikulasi, interpretasi serta penyebaran keduanya memiliki perbedaan. Keduanya juga dianggap memiliki keterkaitan dengan poststrukturalisme dan postmodernisme.
Secara definitive teori postcolonial lahir sesudah kebanyakan Negara-negara terjajah memperoleh kemerdekaannya. Teori poskolonial mencakup seluruh khazanah sastra nasional yang pernah mengalami kekuasaan imperial sejak awal kolonisasi hingga sekarang. Seperti sastra Afrika, Australia, Bangladesh , Canada, Karibia, India, Selandia Baru, Pakistan, Singapura, Sri langka, Malaysia dan Indonesia. Sementara sastra Amerika dinggap sebagai prototype Poskolonial karena sejak abad ke 18 telah mengembangkan konsep sastra Amerika yang dibedakan dengan Sastra Inggris.
Analisis wacana poskolonialis bisa digunakan di satu pihak untuk menelusuri aspek-aspek yang tersembunyi atau sengaja disembunyikan sehingga dapat diketahui bagaimana kekuasaan itu bekerja, di pihak lain membongkar disiplin, lembaga dan ideology yang mendasarinya. Menurut Said, dekonstruksi terhadap wacana-wacana kolonialis penting untuk menyadarkan bangsa Eropah, bahwa teks-teks Orientalis penuh dengan bias-bias cultural.
Pada tahun 1978, Edward Said menerbitkan bukunya yang berjudul erientalism. Buku ini meahirkan kegerahan dan sekaligus pencerahan dalam berbagai disiplin ilmiah seperti kurtural studies, kajian wilayah dan secara khusus melahirkan kajian ilmiah yang dilingkungan akademis dikenal dengan analisis diskursus colonial. Gagasan Edwar Said sangat luas, ia membahas tentang berbagai contest local budaya, sehingga disebut juga dengan “travelling teory’. Bukunya yang berjudul power and culture : interviews with Edward Said merupakan perluasan buku orientalism ditambah dengan wawancaranya. Pemikiran Edwar Said diakui oleh kelompok yang mendukung kajian / discourses colonial dan yang menantangnya, talah meninbulkan pengaruh yangluar biasa bagi analisis kolonialisme dan pemikiran colonial. Lapangan penelitian baru yang dirintis oleh Edward Said dilingkungan dunia akademis, kemudian dikenal dengan teory pascacolonial (postcolonial theory).
Said merasa mendapat manfaat yang besar dari pengalaman hidupnya di Palestina, pendidikannya serta berbagai perbincangannya mengenai budaya dan politik yang akhirnya dapat ia jdikan sebagai inventory yang memperluas gagasannya dan menumbuhkan kesadaran kritis dan humanis. Theory poscolonial muncul sebagai oposisi dari teori kolonoal, yang sering diidentikkan dengan oposisi biner dari colonial atau oksidental. Oksidentalisme (barat) sebagai ikon Negara colonial (penjajah), sedangkan oriental atau timur sebagai Negara-negara yang dijajah (discolonisasi). Istilah orientalisme menurut Edward Said dapat didefinisikan dengan tiga cara yang berbeda.
Memandan orientalisme sebagai mode atau paradigma berpikir epistemology dihasilkan (dikonstruksi) oleh bentuk tertentu kekuasaan dan pengetahuan colonial.
Orientalisme dapat juga dipahami sebagai gelar akademis untuk menggambarkan serangkaian lembaga, vdisiplin dan kegiatan ilmiah terdapat pada universitas barat yang peduli pada kajian masyarakat dan kebudayaan masyarakat timur.
Melihat orientalisme sebagai lembaa resmi yang pada hakikaya peduli pada timur.
Menurut Said, orientalisme pada awalnya muncul dalam kristianitas sebagai konsep pentin misionaris dan control mereka pada yang lain melalui pengetahuan. Suatu discoursus dimana konsep kepentingan, kekuasaan dengan pengetahun melebur, pandangan ini akhirnya meruntuhkan konsep epistimologi pondasional (positipis) terutama tentang ilmu bebas nilai. Orientalisme adalah kultur timur sebagai hal yang kontras dengan kultur barat. Apa yang disebut sebagai esensi timur adalah objek discoursus colonial yang berlawanan dengan barat yang tidak terlepas dari pengaruh kuasa dan pengetahuan. Jadi orientalisme dilihat sebagai teori kekuasaan despotis, yang tidak memahami adanya diferensiasi budaya dalam masyarakat timur (generalisasi). Timur melibatkn teori seksualitas dan sensualitas dalam kedaok teori asketisme yang dikontraskan dengan penolakan kemewahan dan tuntutan asketisme spiritualitas. Orientalisme Prancis, menusut Edward Said, menekankan pada masalah seksualitas, sensualitas dan irasionalitas dalam discoursus orientalisme.
Edward Said merasakan bagaimana rakyat Palestina yang terjajah dan kesetiaannya pada Palestina. Ketajaman analisisnya berhasil menyingkap teori pasca colonial yang semula terpokus pada masalah colonialism, kemudian melebar memasuki dunia ilmiah. Said memngemukakan arti orientalisme dalam tiga wilayah yang saling tumpang tindih.
Orientalisme menciptakan sejarah pahit yang panjang hubungan antara Eropa dan Asia Afrika.
Hal ini juga menciptakan bidang-bidang ilmu yang sejak awal abad ke 19 sebagai spesialis dalam bahasa dan kebudayaan oriental.
Colonialisme menciptakan stereotype – stereotype dan dan ideology tentang “the orient” yang diidentikkan dengan “The Other” atau yang lain “ The Occident” (the self).
Pandangan ini telah dikonstruksi oleh beberapa generasi sarjana-sarjana barat secara turun temurun. Misalnya tentan kemalasan, kecurangan, ketidakmampuan berpikir rasional, orang-orang timur, termasuk didalamnya sikap perlawanan mereka dengan dunia islam.
Dalam konteks orientalisme dan kekuasaan barat untuk memasuki dan meneliti Negara dan budaya timur, dibuka kesempatan bagi mereka untuk memiliki serangkaian pengetahuan tantang kebudayaan-kebudayan tersebut. Kemudian pengetahuan itu menjamin dan melanggenkan kekuasaan barat di Negara-negara tersebut. Minat para orientalis akan bentuk – bentuk pengetahuan ilmiah, seperti Sejarah, Linguistik, Seni, Geograpi, Antropologi, dll yang muncul dalam zaman pencerahan melahirkan ilmu pengetahuan yang memenuhi semangat dan selera ara orientalis, dan kemudian ini menjdi contoh bagi pengetahuan yang negative, membeda-bedakan dan mendominasi. Melalui kritik terhadap ilmu pengetahuan dengan menggunakan persfektif “the other”, maka tokoh pascacolonial juga mengonstruksi bentuk-bentuk pengetahuan baru yang lebih baik dengan menghormati dan menghargai pihak-pihak lain.
Kritik tajam Edward Said juga memunculkan kritik pedas lagi dengan alasan kurang didukung teori. Akan tetapi, ketika dekonstruksi banyak dibicarakan, pemikiran said menjulang dan semakin dikenal. Studi feminis dan kritik pascakolonial adalah contoh yang sangat menarik dan sangat relevan untuk konstruktivisme. Walaupun dalam pembahasan ini tidak begitu dibicarakan permasalahan metodologinya, akan tetapi berbagai metode seperti pos/pascastruktural, etnometodologi, semiotic dan dekonstruksi dapat dilakukan untuk studi ini. Bagaimana ilmu pengetahuan yang berkembang terkait dengan konteks, terkait dengan konsep atau teori yang kita gunakan, dan juga terkait dengan sejarah serta dengan minat dan kekuasaan, semua itu ditunjukkan dalam paradigm konstruktivisme. Konstruktivisme memberikan pemahaman yang mendasar akan berbagai bidang ilmu, khususnya social-budaya yang berbeda dengan pendekatan positivism.
Edward Said mengemukakan perlunya pemahaman tentang permasalahan filosofis yang sangat kompleks dalam penafsiran budaya lain. Pendapat said ini jelas dipengaruhi Faucault dimana konstruksi kaum orientalis lebih merupakan konstruksi wacana daripada sebuah dialog antar dua budaya yang sederajat, dengan mengasumsikan bahwa dialog lebih menekankan rasionalitas dan pencapaian kesepakatan yang menempatkan pihak yang berdialog pada posisi yang sejajar dari pada posisi hegemoni dan represif.
Baik “timur” atau ”Barat” merupakan hasil konstruksi idea tau gagasan berkaitan dengan sebuah realitas social-budaya. Said menghubungkan teori wacana, hubungan kuasa dan pengetahuan untuk perjuangan masyarakat dan politik dalam kehidupan sehari-hari. Dalam buku Orientalisme, said menunjukkan bagaimana imaji barat tentang Timur, dan bagaimana kuasa dan pengetahuan saling kait-mengait dalam tulisan-tulisan kaum orientalis. Dalam essainya, the world, the text, and the critic, said melakukan penelitian dan menyingkap tentang keterkaitan teks dengan konteks atau ‘keduniawian’ teks. Anggapan tentang objektivisme teks atau penafsiran objektif sebenarnya mengabaikan hubungan antara teks dengan konteks.
Pada bagian penutup buku orientalisme yang diterbitkan ulang tahun 1995 ini pula, Edward Said mengemukakan bahwa hadirnya revolusi kesadaran yang luar biasa dalam kesadaran kaum perempuan, kaum minoritas, serta golongan marjinal berpengaruh secara langsung pada pemikiran mainstream di seluruh dunia. Tampilanya kajian orientalisme ternyata begitu dramatis, sehingga menyedot perhatian semua orang yang secara serius peduli dengan kajian budaya yang teoritis dan ilmiah. Seperti Said Edward Sapir membongkar epistemology orientalisme sambil membuka pintu poskolonial (isme) ; konsep wacana Foucault, serta sastra sebagai medium pembaruan moral dari Gramsci digunakan untuk mengungkapkan ideologi-ideologi kelompok sosial.
Kritik Said jelas memosisikannya sebagai pendukung “Timur” atau “yang lain” dengan kepasifannya, kurang mengungkapkan dan mendiskusikannya, serta tidak pula memperhitungkan bagaimana cara-cara indigenous Timur itu menggunakan, memanipulasi dan mengonstruksi respon-respon positipnya sendiri dalam menantang kolonialisme dengan menggunakan konsep-konsep orientalis.
Melalui penafsiran karya karya besar seperti heart of darkness Conrad, Edward Said menunjukkan bagaimana politik dan kebudayaan saling bekerja sama, baik secara sengaja maupun tidak, yang pada akhirnya melahirkan suatu system dominasi yang bukan hanya melibatkan kekuatan militer dan serdadu yang melampaui bentuk kiasan dan imajinasi sang penguasa dan yang dikuasai. Hasilnya adalah visi yang menegaskan bahwa bangsa Eropa (barat) berhak, bahkan wajib untuk berkuasa. Argument Said adalah kekuasaan imperialism barat selalu menghadapi perlawanan. Ia meneliti adanya saling ketergantungan antara wilayah-wilayah cultural dimana kaum penjajah dan kaum terjajah hidup bersama dan saling berperang.
Teori pascakolonial Edward Said yang dikemukakan melalui bukunya Orientalisme: western conception of the Orient dan Cultural and Imperialisme telah menggoncangkan pemikiran dunia. said menggulirkan kritik pedas terhadap pandangan, konsep dan konstruksi ahli barat tentang Timur. Serta bagaimana wacana-wacana ilmiah (wacana orientalis) telah melegitimasi agresi kaum kolonialis serta supremasi politik dunia barat.
Edward Said mengemukakan bahwa Orientalisme berkaitan dengan tiga fenomena yang saling berkaitan. Pertama, seorang orientalis adalah yang mengajarkan, orang yang menulis tentang, atau meneliti dunia timur. Baik ia seorang Antropolog, Sosiolog, Sejarawan atau filolog. Orientalis adalah ahli ataw ilmuan Barat yang mengklaim memiliki ilmu pengetahuan dan otoritas ilmiah untuk memahami budaya Timur. Kedua, Orientalisme mengacu pada perbedaan dua model pemikiran yang didasarkan pada Ontologi dan Epistemologi yang berbeda. Ketiga. Orientalisme dapat dilihat sebagai institusi yang berbadan hokum untuk menghadapi Timur, menjustifikasi pandangan tentang Timur, mendeskripsikannya, serta menguasainya. Orientalisme adalah cara barat untuk mendominasi, merestrukturasi dan menguasai Timur
Analisis Cerpen Tahi Lalat Di Dada Istri Pak Lurah
Pada cerpen “ Tahi Lalat di Dada Istri Pak Lurah” karya M. Shoim Anwar terdapat unsur kekusaan yang dilakukan oleh pak lurah. Ia menggunakan kekuasaannya untuk mengambil ladang warga dan mengubahnya menjadi perumahan mewah. Warga yang tanahnya strategis yang di incarnya. Melalui bantuan Pak Bayan atau sekretaris desa yang merayu warga agar menjual tanahnya dengan harga yang lumayan mahal. Setelah tanahnya terlepas dari pemiliknya, Pak Lurah dan Pak Bayan bekerja sama mencari keuntungan berlipat dari persantase diam-diam antara mereka dan pihak pembeli yang akhirnya menjadikan mereka bertambah kaya dari hari ke hari. Terkadang Pak Bayan juga menggunakan kalimat yang berupa intimidasi dan ancaman untuk menakuti warga agar menyerahkan tanahnya.
Selain itu unsur poskolonial juga terdapat pada bagian dimana Pak Lurah ingin kembali menjabat sebagai lurah dengan mencalonkan diri lagi pada pemilihan calon lurah berikutnya. Tak ada yang bisa mencegahnya, Ia selalu melontar janji – janji palsu untuk memajukan desa. Mungkin karena dengan berita Pak Lurah kembali mencalonkan diri, membuat gosip tentang tahi lalat di dada istri Pak Lurah semakin hangat dibicarakan. Ini pasti ada kaitannya dengan unsur politik.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Istilah ini mengacu pada orang-orang Romaawi yang tinggal di negeri-negeri lain, akan tetapi masih sebagai warga Negara Romawi. Oxford English Dictionary menjelaskan pengertian coloni sebagai sebuah pemukiman dalam sebuah negeri baru.., sekelompok orang yang bermukim dalam sebuah lokasi baru dengan membentuk sebuah komunitas yang tunduk atau terhubung dengan Negara asal mereka.
DAFTAR PUSTAKA
https://endonesa.wordpress.com/2008/09/08/puisi-definisi-dan-unsur-unsurnya/
https://id.wikipedia.org/wiki/Puisi)
http://www.artikelsiana.com/2015/10/pengertian-puisi-ciri-jenis-jenis-unsur.html
Komentar
Posting Komentar