Unsur Intrinsik Cerpen "Pesta Keluarga"
UNSUR INTRINSIK CERPEN “PESTA KELUARGA”
Karya: M. Shoim Anwar
Dosen Pembimbing
M. Shoim Anwar
Oleh
Kelompok 4 (2016-B)
Rif’atul Laily R. 165200044
Prasthika Ayu P. W. 165200054
Nining Mahmudah 165200092
Galang Adi C. H. 165200094
UNIVERSITAS PGRI ADI BUANA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
SURABAYA
2017
Teori struktural sastra tidak memperlakukan sebuah karya sastra tertentu sebagai objek kajiannya, yang menjadi objek kajiannya.adalah sistem sastra, yaitu seperangkat konvensi yang abstrak dan umum yang mengatur hubungan berbagai unsur dalam teks sastra sehingga unsur-unsur tersebut berkaitan satu sama laindalam keseluruhan yang utuh.
(dalam https://embah-paririmbon.blogspot.co.id/2016/09/teori-struktural-dalam- pengkajian-sastra.html)
Tema adalah merupakan suatu gagasan pokok atau ide pikiran tentang suatu hal, salah satunya dalam membuat suatu tulisan. Di setiap tulisan pastilah mempunyai sebuah tema, karena dalam sebuah penulisan dianjurkan harus memikirkan tema apa yang akan dibuat. Dalam menulis cerpen,puisi,novel,karya tulis, dan berbagai macam jenis tulisan haruslah memiliki sebuah tema. Jadi jika diandaikan seperti sebuah rumah, tema adalah fondasinya. Tema juga hal yang paling utama dilihat oleh para pembaca sebuah tulisan. Jika temanya menarik, maka akan memberikan nilai lebih pada tulisan tersebut
(dalam https://id.wikipedia.org/wiki/Tema)
Penokohan adalah pemberian sifat pada tokoh atau pelaku tokoh.
Tokoh adalah orang atau pelaku dalam cerita.
Alur adalah jalan cerita
Macam-macam alur :
a. alur maju.
b. alur mundur.
c. alur campuran.
6. Latar / setting adalah tempat peristiwa waktu dan suasana dari suatu cerpen.
7. Sudut pandang adalah cara bagaimana penulis cerita menempatkan dirinya pada cerita, atau dari sudut mana penulis cerita memandang cerita yang dibuatnya.
Sudut pandang orang pertama sebagai pelaku utama.
Sudut pandang ini umumya menggunakan kata ganti seperti Aku ataupun Saya pada tokoh utama cerita.
Sudut pandang orang pertama sebagai pelaku sampingan
Dalam sudut pandang ini seolah – olah si tokoh utama yang bercerita, akan tetapi posisinya dalam cerita bukanlah sebagai tokoh utama.
Sudut pandang orang ketiga serba tahu
Sudut pandang ini umumnya menggunakan kata ganti ia, dia atau nama dari pelaku yang ada dalam cerita yang dibuat oleh penulis.
Sudut pandang orang ketiga pengamat
Dalam sudut pandang ini kata “dia” sangatlah terbatas. Penulis cerita menggambarkan apa yang dilihat, didengar, yang dialami dan yang dirasakan oleh tokoh utama dalam cerita, akan tetapi hal tersebut sangat terbatas hanya pada seseorang tokoh saja.
Gaya bahasa adalah cara khas dalam menyampaikan sebuah kalimat / kata yang menggunakan kalimat / kata – kata pilihan.
Majas Personifikasi adalah majas yang membandingkan benda yang tidak bernyawa menjadi benda yang hidup dan bernyawa.
Majas Simile adalah majas yang membandingkan dua hal yang berbeda tetapi sengaja di anggap sama.
Majas Metafora adalah majas perbandingan yang menggunakan kata atau kelompok kata bukan dengan arti yang sebenarnya.
Majas Alegori adalah majas yang mempertautkan satu hal atau kejadian dengan hal atau kejadian lain dalam kesatuan yang utuh.
Majas Epik Simile adalah majas perbandingan yang di perpanjang dan dibentuk dengan melanjutkan kata sifat sifat perbandingan dalam kalimat atau frasa secara berturut turut.
Majas Hiperbola adalah majas yang mengandung pernyataan yang berlebih lebihan dengan maksud untuk memperhebat, meningkatkan kesan dan pengaruhnya.
Amanat adalah pesan moral dari suatu cerpen.
(dalam https://embah-paririmbon.blogspot.co.id/2016/09/teori-struktural-dalam- pengkajian-sastra.html)
Tema : Keburuntungan membawa musibah.
Penokohan :
Pak Rais
Bertanggung jawab
(“Tapi ini milik orang”) Anwar, 2017;100
Kurang pendirian
(“Tolong ada yang dibuat empal,” aku akhirnya punya usulan) Anwar, 2017;101
Pak Markasan
Mudah tergiur
(“ matang apa mentah?” tanya Markasan) Anwar, 2017;100
Pak Bagio
Mudah tergiur
(“wah, enak bisa dimasak”) Anwar, 2017;100
Pak Hadi
Adil
(“kita bagi-bagi rata”) Anwar, 2017;100
Pak Pardi
Asal bicara
(“kalau tidak berani, aku saja yang bawa” Pardi menyodorkan tangannya) Anwar, 2017;100
Istri pak Rais
Tamak
(“wah, cocok untuk rawon”) Anwar, 2017;101
(“gulai juga cocok, dagingnya lembek kayak lulur”) Anwar, 2017;101
Anak Pak Rais (Neti, Andi, dan Rudi)
Tamak
Kurang bersyukur
(“moga-moga besok ada daging tertinggal lagi,” kata Neti) Anwar, 2017; 104
(“Aku minta sate” kata Andi) Anwar, 2017; 101
(mulut Rudi terlihat penuh, tangan kirinya terlihat memegng tiga tusuk sate. Meski begitu , matanya masih jelalatan mengawasi gulai dalam mangkuk) Anwar, 2017; 103
Mahasiswa Kedokteran
Teledor
(“kami adalah mahasiswa Kedokteran. Sudah dua minggu kami ikut praktik di rumah sakit bagian bedah. Kami juga ingin mengadaklan penelitian lebih lanjut. Tapi, pak, eee.....bahan yang akan kami teliti tadi apa tertinggal di bemo bapak?”) Anwar,2017;105
( “begini pak, banyak orang menderita penyakit dalam tubuhnya. Ada yang dibawah kulit, diotak, kandungan, rahim, payudara, usus, dan lainnya”) Anwar, 2017; 105
Ibu penumpang
Jujur
(“bukan,” dia menggeleng-geleng) Anwar, 2017; 99
Alur :
Alur maju
Tahap perkenalan
(pukul sepuluh bagi pengemudi bemo dan mikrolet, adalah jam mati) Anwar, 2017; 97
Tahap konflik
(tas berwarna putih itu aku lihat kembali. Tertera cap dan logo supermarket. Daging ini pasti baru saja dibeli dari sana.) Anwar, 2017; 99
Tahap komplikasi
(“wah cocok untuk rawon” kata istriku ketika memeriksa daging dalam kotak yang aku sodorkan) Anwar, 2017; 101
(“daripada busuk dan dibuang, kan lebih baik dimasak” istriku berdalih) Anwar, 2017; 101
Tahap klimaks
(“tolong, ada yang dibuat empal” aku akhirnya punya usulan juga)
Anwar, 2017; 101
(“beres!” istriku menyaut dari dapur) Anwar, 2017; 101
Tahap anti klimaks
(“kami adalah mahasiswa kedokteran. Sudah dua minggu kami ikut praktik di rumah sakit bagian bedah. Kami juga ingin mengadakan penelitian lebih lanjut. Tapi, pak, eee.....bahan yang akan kami teliti tadi apa tertinggal di bemo bapak?”) Anwar, 2017; 105
Tahap penyelesaian
(kami sekeluarga muntah bersamaan) Anwar, 2017; 106
Latar Tempat :
Pangkalan bemo
(“ada orang mencari barangnya yang ketinggalan dibemo?” tanyaku pada teman-teman sopir dipangkalan) Anwar, 2017; 100
Stasiun
(bemo yang aku kemudian akhirnya sampai di dekat stasiun) Anwar, 2017; 99
Rumah
(sesampai dirumah, aku beritahukan perihal daging itu kepada istri) Anwar, 2017; 100
Waktu :
Pagi, pukul 10:00
(pukul sepuluh, bagi pengemudi bemo atau mikrolet adalah jam mati) Anwar, 2017; 97
Siang
(tambah siang, udara makin panas dan berdebu penumpang masih tetap satu orang) Anwar, 2017; 98
Sore
(sore itu, tidak seperti biasanya, kami makan lebih awal) Anwar, 2017; 103
Suasana :
Senang
(wajahnya tampak berbinar-binar. Maklum kami sangat jarang memasak daging karena mahal) Anwar, 2017; 101
Mengejutkan
(“bukan daging, pak ituadalah tumor yang telah kami ambil”) Anwar, 2017; 105
(“tu....tumor..?” aku meremas mulut) Anwar, 2017; 105
Sudut pandang :
Orang pertama, pelaku utama
(hanya ada satu penumpang yang aku bawa) Anwar, 2017; 97
Gaya bahasa :
Personifikasi
(daun pintu menggebrak karena disapu angin dari luar) Anwar, 2017; 102
Hiperbola
(sontak ada yang menyembul dalam perutku.) Anwar, 2017; 105
(jantungku terasa berdetak kencang) Anwar, 2017; 105
(perutku menyentak-nyetak dan kemudian terasa diaduk-aduk) Anwar, 2017; 105
Amanat : - Jangan mudah terpengaruh pada orang lain.
-Tetap berpegang teguh pada pendirian.
Daftar Pustaka
Anwar M.Shoim.2017. Tahi Lalat di Dada Istri Pak Lurah. Lamongan:CV.
PUSTAKA ILALANG.
Hanamanteo.2015. TEMA. Dalam: https://id.wikipedia.org/wiki/Tema (diakses 18 Maret 2015)
Thea. Sona. 2016. Teori Struktural dalam Pengkajian Sastra. Dalam: https://embah-paririmbon.blogspot.co.id/2016/09/teori-struktural-dalam- pengkajian-sastra.html (diakses September 2016)
Karya: M. Shoim Anwar
Dosen Pembimbing
M. Shoim Anwar
Oleh
Kelompok 4 (2016-B)
Rif’atul Laily R. 165200044
Prasthika Ayu P. W. 165200054
Nining Mahmudah 165200092
Galang Adi C. H. 165200094
UNIVERSITAS PGRI ADI BUANA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
SURABAYA
2017
Teori struktural sastra tidak memperlakukan sebuah karya sastra tertentu sebagai objek kajiannya, yang menjadi objek kajiannya.adalah sistem sastra, yaitu seperangkat konvensi yang abstrak dan umum yang mengatur hubungan berbagai unsur dalam teks sastra sehingga unsur-unsur tersebut berkaitan satu sama laindalam keseluruhan yang utuh.
(dalam https://embah-paririmbon.blogspot.co.id/2016/09/teori-struktural-dalam- pengkajian-sastra.html)
Tema adalah merupakan suatu gagasan pokok atau ide pikiran tentang suatu hal, salah satunya dalam membuat suatu tulisan. Di setiap tulisan pastilah mempunyai sebuah tema, karena dalam sebuah penulisan dianjurkan harus memikirkan tema apa yang akan dibuat. Dalam menulis cerpen,puisi,novel,karya tulis, dan berbagai macam jenis tulisan haruslah memiliki sebuah tema. Jadi jika diandaikan seperti sebuah rumah, tema adalah fondasinya. Tema juga hal yang paling utama dilihat oleh para pembaca sebuah tulisan. Jika temanya menarik, maka akan memberikan nilai lebih pada tulisan tersebut
(dalam https://id.wikipedia.org/wiki/Tema)
Penokohan adalah pemberian sifat pada tokoh atau pelaku tokoh.
Tokoh adalah orang atau pelaku dalam cerita.
Alur adalah jalan cerita
Macam-macam alur :
a. alur maju.
b. alur mundur.
c. alur campuran.
6. Latar / setting adalah tempat peristiwa waktu dan suasana dari suatu cerpen.
7. Sudut pandang adalah cara bagaimana penulis cerita menempatkan dirinya pada cerita, atau dari sudut mana penulis cerita memandang cerita yang dibuatnya.
Sudut pandang orang pertama sebagai pelaku utama.
Sudut pandang ini umumya menggunakan kata ganti seperti Aku ataupun Saya pada tokoh utama cerita.
Sudut pandang orang pertama sebagai pelaku sampingan
Dalam sudut pandang ini seolah – olah si tokoh utama yang bercerita, akan tetapi posisinya dalam cerita bukanlah sebagai tokoh utama.
Sudut pandang orang ketiga serba tahu
Sudut pandang ini umumnya menggunakan kata ganti ia, dia atau nama dari pelaku yang ada dalam cerita yang dibuat oleh penulis.
Sudut pandang orang ketiga pengamat
Dalam sudut pandang ini kata “dia” sangatlah terbatas. Penulis cerita menggambarkan apa yang dilihat, didengar, yang dialami dan yang dirasakan oleh tokoh utama dalam cerita, akan tetapi hal tersebut sangat terbatas hanya pada seseorang tokoh saja.
Gaya bahasa adalah cara khas dalam menyampaikan sebuah kalimat / kata yang menggunakan kalimat / kata – kata pilihan.
Majas Personifikasi adalah majas yang membandingkan benda yang tidak bernyawa menjadi benda yang hidup dan bernyawa.
Majas Simile adalah majas yang membandingkan dua hal yang berbeda tetapi sengaja di anggap sama.
Majas Metafora adalah majas perbandingan yang menggunakan kata atau kelompok kata bukan dengan arti yang sebenarnya.
Majas Alegori adalah majas yang mempertautkan satu hal atau kejadian dengan hal atau kejadian lain dalam kesatuan yang utuh.
Majas Epik Simile adalah majas perbandingan yang di perpanjang dan dibentuk dengan melanjutkan kata sifat sifat perbandingan dalam kalimat atau frasa secara berturut turut.
Majas Hiperbola adalah majas yang mengandung pernyataan yang berlebih lebihan dengan maksud untuk memperhebat, meningkatkan kesan dan pengaruhnya.
Amanat adalah pesan moral dari suatu cerpen.
(dalam https://embah-paririmbon.blogspot.co.id/2016/09/teori-struktural-dalam- pengkajian-sastra.html)
Tema : Keburuntungan membawa musibah.
Penokohan :
Pak Rais
Bertanggung jawab
(“Tapi ini milik orang”) Anwar, 2017;100
Kurang pendirian
(“Tolong ada yang dibuat empal,” aku akhirnya punya usulan) Anwar, 2017;101
Pak Markasan
Mudah tergiur
(“ matang apa mentah?” tanya Markasan) Anwar, 2017;100
Pak Bagio
Mudah tergiur
(“wah, enak bisa dimasak”) Anwar, 2017;100
Pak Hadi
Adil
(“kita bagi-bagi rata”) Anwar, 2017;100
Pak Pardi
Asal bicara
(“kalau tidak berani, aku saja yang bawa” Pardi menyodorkan tangannya) Anwar, 2017;100
Istri pak Rais
Tamak
(“wah, cocok untuk rawon”) Anwar, 2017;101
(“gulai juga cocok, dagingnya lembek kayak lulur”) Anwar, 2017;101
Anak Pak Rais (Neti, Andi, dan Rudi)
Tamak
Kurang bersyukur
(“moga-moga besok ada daging tertinggal lagi,” kata Neti) Anwar, 2017; 104
(“Aku minta sate” kata Andi) Anwar, 2017; 101
(mulut Rudi terlihat penuh, tangan kirinya terlihat memegng tiga tusuk sate. Meski begitu , matanya masih jelalatan mengawasi gulai dalam mangkuk) Anwar, 2017; 103
Mahasiswa Kedokteran
Teledor
(“kami adalah mahasiswa Kedokteran. Sudah dua minggu kami ikut praktik di rumah sakit bagian bedah. Kami juga ingin mengadaklan penelitian lebih lanjut. Tapi, pak, eee.....bahan yang akan kami teliti tadi apa tertinggal di bemo bapak?”) Anwar,2017;105
( “begini pak, banyak orang menderita penyakit dalam tubuhnya. Ada yang dibawah kulit, diotak, kandungan, rahim, payudara, usus, dan lainnya”) Anwar, 2017; 105
Ibu penumpang
Jujur
(“bukan,” dia menggeleng-geleng) Anwar, 2017; 99
Alur :
Alur maju
Tahap perkenalan
(pukul sepuluh bagi pengemudi bemo dan mikrolet, adalah jam mati) Anwar, 2017; 97
Tahap konflik
(tas berwarna putih itu aku lihat kembali. Tertera cap dan logo supermarket. Daging ini pasti baru saja dibeli dari sana.) Anwar, 2017; 99
Tahap komplikasi
(“wah cocok untuk rawon” kata istriku ketika memeriksa daging dalam kotak yang aku sodorkan) Anwar, 2017; 101
(“daripada busuk dan dibuang, kan lebih baik dimasak” istriku berdalih) Anwar, 2017; 101
Tahap klimaks
(“tolong, ada yang dibuat empal” aku akhirnya punya usulan juga)
Anwar, 2017; 101
(“beres!” istriku menyaut dari dapur) Anwar, 2017; 101
Tahap anti klimaks
(“kami adalah mahasiswa kedokteran. Sudah dua minggu kami ikut praktik di rumah sakit bagian bedah. Kami juga ingin mengadakan penelitian lebih lanjut. Tapi, pak, eee.....bahan yang akan kami teliti tadi apa tertinggal di bemo bapak?”) Anwar, 2017; 105
Tahap penyelesaian
(kami sekeluarga muntah bersamaan) Anwar, 2017; 106
Latar Tempat :
Pangkalan bemo
(“ada orang mencari barangnya yang ketinggalan dibemo?” tanyaku pada teman-teman sopir dipangkalan) Anwar, 2017; 100
Stasiun
(bemo yang aku kemudian akhirnya sampai di dekat stasiun) Anwar, 2017; 99
Rumah
(sesampai dirumah, aku beritahukan perihal daging itu kepada istri) Anwar, 2017; 100
Waktu :
Pagi, pukul 10:00
(pukul sepuluh, bagi pengemudi bemo atau mikrolet adalah jam mati) Anwar, 2017; 97
Siang
(tambah siang, udara makin panas dan berdebu penumpang masih tetap satu orang) Anwar, 2017; 98
Sore
(sore itu, tidak seperti biasanya, kami makan lebih awal) Anwar, 2017; 103
Suasana :
Senang
(wajahnya tampak berbinar-binar. Maklum kami sangat jarang memasak daging karena mahal) Anwar, 2017; 101
Mengejutkan
(“bukan daging, pak ituadalah tumor yang telah kami ambil”) Anwar, 2017; 105
(“tu....tumor..?” aku meremas mulut) Anwar, 2017; 105
Sudut pandang :
Orang pertama, pelaku utama
(hanya ada satu penumpang yang aku bawa) Anwar, 2017; 97
Gaya bahasa :
Personifikasi
(daun pintu menggebrak karena disapu angin dari luar) Anwar, 2017; 102
Hiperbola
(sontak ada yang menyembul dalam perutku.) Anwar, 2017; 105
(jantungku terasa berdetak kencang) Anwar, 2017; 105
(perutku menyentak-nyetak dan kemudian terasa diaduk-aduk) Anwar, 2017; 105
Amanat : - Jangan mudah terpengaruh pada orang lain.
-Tetap berpegang teguh pada pendirian.
Daftar Pustaka
Anwar M.Shoim.2017. Tahi Lalat di Dada Istri Pak Lurah. Lamongan:CV.
PUSTAKA ILALANG.
Hanamanteo.2015. TEMA. Dalam: https://id.wikipedia.org/wiki/Tema (diakses 18 Maret 2015)
Thea. Sona. 2016. Teori Struktural dalam Pengkajian Sastra. Dalam: https://embah-paririmbon.blogspot.co.id/2016/09/teori-struktural-dalam- pengkajian-sastra.html (diakses September 2016)
Komentar
Posting Komentar