Analisis Cerpen "Jangan ke Istana Anakku" dengan Menggunakan Teori Strukturalisme Genetik
MAKALAH
TEORI SASTRA
ANALISIS CERPEN “JANGAN KE ISTANA, ANAKKU” DENGAN MENGGUNAKAN TEORI STRUKTURALISME GENETIK
Dosen Pembimbing :
M. Shoim Anwar, M.pd
Oleh :
Nining Mahmudah
165200092
UNIVERSITAS ADI BUANA SURABAYA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
PENJELASAN
Pengertian Teori Strukturalime Genetik
Teori strukturalisme genetik menjelaskan struktur dan asal muasal struktur tersebut dengan memperhatikan relevansi konsep homologi yaitu kelas sosial yang mempertahankan relevansi struktur dan ia menggunakan metode dialektika yang menekankan dan merpertimbangkan koherensi struktural dalam teori ini menekankan subjek transindividual yang berarti sebagai subjek dalam menciptakan karya sastra yakni penulis harus bisa menyampaikan perasaan dan pikiranya kepada pembaca dalam karya sastra misalnya supaya pembaca bisa memahami dan mengerti apa yang disampaikan penulis dan terjadi sama rasa dan pikiran dalam memahami karya sastra dan pandangan dunia pengarang terhadap subjek kolektif (transindividual subject) dan fakta manusia.
Strukturalisme genetik memasukan faktor genetik dalam karya sastra, genetik sastra artinya asal usul karya sastra. Adapun faktor yang terkait dalam asal muasal karya sastra adalah pengarang dan kenyataan sejarah yang turut mengkondisikan saat karya sastra itu diciptakan. Ditambah lagi ia memasuki struktur sosial dalam kajiaannya yang membuat teori ini dominan pada priode tertentu terutama di Barat dan Indonesia.
PEMBAHASAN
Struktur Karya Sastra
Manusia-manusia yang ada dalam cerpen yang diteliti adalah Dewi, Orang tua Dewi, Cecenguk Istana, Baginda. Lingkungan alamnya adalah di sebuah istana. Lingkungan kulturalnya adalah istana besar yang kacau balau. Lingkungan sosialnya adalah kehidupaan di istana yang sangat mengerikan, selalu menggunakan kekejaman. Relasi oposisional yang terbentuk dari semesta imajiner di atas adalah sebagai berikut.
Oposisi kultural : istana yang selalu terjadi kekacauan dan kegaduhan, rasis dan sikap tidak menghargai perbedaan. Di antara kedua kutub oposisional itu terdapat posisi-antara, yaitu rentang waktu pertemuan tokoh dengan kedua orang tuanya yang menghubungkan sebuah kehidupan di istana yang penuh kekacauaaan dan kejahatan rasial yang menjembatani sifat rasis dengan menghargai perbedaan.
Oposisi sosial : masyarakat etnis yang mendominasi dengan masyarakat etnis minoritas (yang dianggap tidak baik), Dewi yang dijembatani orang tua Dewi dan kekacauan.
Oposisi manusia : Dewi, Ayah Dewi. Yang berada di istana tersebut adalah narator.
b. Pandangan Dunia
Struktur karya sastra ini mengekspresikan suatu pandangan dunia mengenai penindasan terhadap rakyat jelata. Penindasan merujuk kepada perlakukan tidak adil kepada individu tertentu. Dalam cerpen “Jangan ke Istana, Anakku”, pandangan yang terlihat dominan adalah mengenai penindasan dan diskriminasi rasial/etnis. Beberapa tokoh di cerpen ini menganggap bahwa orang yang berbeda golongan etnisnya adalah orang yang “tidak baik”. Mereka menganggap bahwa ras/ etnisnya lah yang paling unggul. Kekacauan yang digambarkan dalam cerpen tersebut juga mengindikasikan adanya diskriminasi terhadap kaum minoritas yang seharusnya tidak perlu terjadi dalam masyarakat plural seperti Indonesia. Negara Indonesia adalah negara yang majemuk dan memiliki semboyan “Bhineka Tunggal Ika”.
c. Struktur Sosial
Pada masa ketika karya sastra tersebut lahir, struktur sosial masyarakat Indonesia sedang mengalami gejolak yang hebat. Hal ini disebabkan oleh krisis moneter yang dialami negara. Pada masa ini orang-orang keturunan Tionghoa di Indonesia mengalami kekerasan dan diskriminasi. Kekerasan berupa pemerkosaan dialami oleh wanita-wanita keturunan Tionghoa. Banyak diantara mereka yang meninggal karena tokonya dibakar dan dijarah. Lebih dari 70.000 warga keturunan Tionghoa mengungsi ke luar negeri karena nyawanya terancam. Dalam cerpen ini, tokoh Angela dikisahkan sebagai seorang gadis keturunan Tionghoa yang (mungkin) telah meninggal atau mengungsi ke luar negeri.
Dalam situasi seperti ini, kelas sosial pengarang berada dua dalam posisi yang bertentangan. Kesatuan dunia sosial terbangun karena adanya dominasi kelas sosial satu terhadap kelas sosial lain. Kenyataan seperti inilah yang menyebabkan pengarang berada di posisi menerima dan menolak dunia.
DAFTAR PUSTAKA
Muthoharo, Aliyah. 2013. Teori Struktural Genetik
Dalam ( http://aliyahmuthoharoh-fib09.web.unair.ac.id/artikel_detail-70814-Umum-TEORI STRUKTURAL GENETIK Kajian Analisis Cara Kerja Teori pada Karya Sastra Masterpeace (Model Goldman).html )
Kurnia, Yeni. 2015. Analisis Strukturalisme Genetik
Dalam ( http://yekurnia.blogspot.co.id/2015/08/analisis-strukturalisme-genetik-pada.html )
TEORI SASTRA
ANALISIS CERPEN “JANGAN KE ISTANA, ANAKKU” DENGAN MENGGUNAKAN TEORI STRUKTURALISME GENETIK
Dosen Pembimbing :
M. Shoim Anwar, M.pd
Oleh :
Nining Mahmudah
165200092
UNIVERSITAS ADI BUANA SURABAYA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
PENJELASAN
Pengertian Teori Strukturalime Genetik
Teori strukturalisme genetik menjelaskan struktur dan asal muasal struktur tersebut dengan memperhatikan relevansi konsep homologi yaitu kelas sosial yang mempertahankan relevansi struktur dan ia menggunakan metode dialektika yang menekankan dan merpertimbangkan koherensi struktural dalam teori ini menekankan subjek transindividual yang berarti sebagai subjek dalam menciptakan karya sastra yakni penulis harus bisa menyampaikan perasaan dan pikiranya kepada pembaca dalam karya sastra misalnya supaya pembaca bisa memahami dan mengerti apa yang disampaikan penulis dan terjadi sama rasa dan pikiran dalam memahami karya sastra dan pandangan dunia pengarang terhadap subjek kolektif (transindividual subject) dan fakta manusia.
Strukturalisme genetik memasukan faktor genetik dalam karya sastra, genetik sastra artinya asal usul karya sastra. Adapun faktor yang terkait dalam asal muasal karya sastra adalah pengarang dan kenyataan sejarah yang turut mengkondisikan saat karya sastra itu diciptakan. Ditambah lagi ia memasuki struktur sosial dalam kajiaannya yang membuat teori ini dominan pada priode tertentu terutama di Barat dan Indonesia.
PEMBAHASAN
Struktur Karya Sastra
Manusia-manusia yang ada dalam cerpen yang diteliti adalah Dewi, Orang tua Dewi, Cecenguk Istana, Baginda. Lingkungan alamnya adalah di sebuah istana. Lingkungan kulturalnya adalah istana besar yang kacau balau. Lingkungan sosialnya adalah kehidupaan di istana yang sangat mengerikan, selalu menggunakan kekejaman. Relasi oposisional yang terbentuk dari semesta imajiner di atas adalah sebagai berikut.
Oposisi kultural : istana yang selalu terjadi kekacauan dan kegaduhan, rasis dan sikap tidak menghargai perbedaan. Di antara kedua kutub oposisional itu terdapat posisi-antara, yaitu rentang waktu pertemuan tokoh dengan kedua orang tuanya yang menghubungkan sebuah kehidupan di istana yang penuh kekacauaaan dan kejahatan rasial yang menjembatani sifat rasis dengan menghargai perbedaan.
Oposisi sosial : masyarakat etnis yang mendominasi dengan masyarakat etnis minoritas (yang dianggap tidak baik), Dewi yang dijembatani orang tua Dewi dan kekacauan.
Oposisi manusia : Dewi, Ayah Dewi. Yang berada di istana tersebut adalah narator.
b. Pandangan Dunia
Struktur karya sastra ini mengekspresikan suatu pandangan dunia mengenai penindasan terhadap rakyat jelata. Penindasan merujuk kepada perlakukan tidak adil kepada individu tertentu. Dalam cerpen “Jangan ke Istana, Anakku”, pandangan yang terlihat dominan adalah mengenai penindasan dan diskriminasi rasial/etnis. Beberapa tokoh di cerpen ini menganggap bahwa orang yang berbeda golongan etnisnya adalah orang yang “tidak baik”. Mereka menganggap bahwa ras/ etnisnya lah yang paling unggul. Kekacauan yang digambarkan dalam cerpen tersebut juga mengindikasikan adanya diskriminasi terhadap kaum minoritas yang seharusnya tidak perlu terjadi dalam masyarakat plural seperti Indonesia. Negara Indonesia adalah negara yang majemuk dan memiliki semboyan “Bhineka Tunggal Ika”.
c. Struktur Sosial
Pada masa ketika karya sastra tersebut lahir, struktur sosial masyarakat Indonesia sedang mengalami gejolak yang hebat. Hal ini disebabkan oleh krisis moneter yang dialami negara. Pada masa ini orang-orang keturunan Tionghoa di Indonesia mengalami kekerasan dan diskriminasi. Kekerasan berupa pemerkosaan dialami oleh wanita-wanita keturunan Tionghoa. Banyak diantara mereka yang meninggal karena tokonya dibakar dan dijarah. Lebih dari 70.000 warga keturunan Tionghoa mengungsi ke luar negeri karena nyawanya terancam. Dalam cerpen ini, tokoh Angela dikisahkan sebagai seorang gadis keturunan Tionghoa yang (mungkin) telah meninggal atau mengungsi ke luar negeri.
Dalam situasi seperti ini, kelas sosial pengarang berada dua dalam posisi yang bertentangan. Kesatuan dunia sosial terbangun karena adanya dominasi kelas sosial satu terhadap kelas sosial lain. Kenyataan seperti inilah yang menyebabkan pengarang berada di posisi menerima dan menolak dunia.
DAFTAR PUSTAKA
Muthoharo, Aliyah. 2013. Teori Struktural Genetik
Dalam ( http://aliyahmuthoharoh-fib09.web.unair.ac.id/artikel_detail-70814-Umum-TEORI STRUKTURAL GENETIK Kajian Analisis Cara Kerja Teori pada Karya Sastra Masterpeace (Model Goldman).html )
Kurnia, Yeni. 2015. Analisis Strukturalisme Genetik
Dalam ( http://yekurnia.blogspot.co.id/2015/08/analisis-strukturalisme-genetik-pada.html )
l
Komentar
Posting Komentar