Unsur-Unsur Puisi
UNSUR-UNSUR PUISI
Dosen Pembimbing
M. Shoim Anwar
Oleh
Kelompok 4 (2016-B)
Rif’atul Laily R. 165200044
Prasthika Ayu P. W. 165200054
Nining Mahmudah 165200092
Galang Adi C. H. 165200094
UNIVERSITAS PGRI ADI BUANA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
SURABAYA
2017
Kata ”puisi “ berasal dari bahsa Yunani “poieo atau “poio” atau “poetes” yang berarti membangun, menyebabkan, membuat puisi. Poetes berarti pembuat puisi atau penyair. Secara etimologi, puisi berarti ucapan yang dibuat atau dibangun; maksudnya ucapan yang tidak langsung. Jika dibandingkan antara prosa dan puisi, maka nampak bahwa puisi adalah pengkonsentrasian. Puisi mengonsentrasikan pada dirinya segala perasaan, kesan dan kesenangan dalam pengucapan yang ketat. Puisi merupakan ungkapan perasaan, kesan atau kenangan dengan pengucapan yang memusat (cosentrated) padat dan intensif. Oleh karena itu isi puisi secara penuh tanpa mengetahui dan menyadari bahwa puisi itu karya estetis yang bermakna, memunyai arti, dan bukan sesuatu yang kosong tanpa makna.
Puisi sebagai karya sastra puitis sudah pasti mengandung arti keindahan yang khusus untuk puisi. Sulit memberikan definisi puitis, sulit pula menguraikan bagaimana sifat-sifat yang disebut puitis. Sesuatu (khususnya puisi) disebut puitis jika dapat membangkitkan perasaan, menarik perhatian, menimbulkan tanggapan yang jelas, dan secara umum bila hal itu menumbuhkan keharuan.Untuk memberikan defenisi tepat mengenai puisi memang tidaklah mudah. Di bawah ini disampaikan pengertian puisi menurut ahli sebagai berikut:
“Menurut Suminto dalam Setiawan, puisi adalah suatu bentuk pengucapan bahasa yang memperhitungkan adanya aspek buyi-buyi di dalamnya, yang mengungkapkan pengalaman imajinatif, emosional dan intelektual penyair yang ditimba dari kehidupan individual dan sosialnya : yang diungkapkan dengan teknik pilihan tertentu, sehingga puisi itu mampu membangkitkan pengalaman tertentu pula dalam diri pembaca atau pendengarnya.”
“Menurut Sayuti dalam Setiawan, puisi merupakan pengucapan bahasa yang memperhitungkan adanya aspekaspek bunyi di dalamnya, yang mengungkapkan pengalaman imajinatif, emosional, dan intelektual penyair yang ditimba dari kenidupan individu dan sosialnya : yang diungkapkan dengan teknik tertentu sehingga puisi itu dapat membangkitkan pengalaman tertentu pula dalam diri pembaca atau pendengarnya.”
Penjelasan di atas memberikan pemahaman bahwa puisi merupakan suatu ungkapan perasaan penulis itu sendiri, ungkapan perasaan itu bisa berupa perasaan kagum, benci, rindu, bahagia, sedih yang diungkapkan dengan kata-kata yang puitis (indah). Unsur-unsur pembangun puisi menurut Gandi, bahwa puisi terdiri dari struktur fisik dan struktur batin puisi. Struktur puisi ini merupakan medium pengungkap struktur batin puisi. Adapun unsur-unsur yang termasuk dalam struktur fisik puisi adalah diksi, citraan (pengimajian), kata konkret, majas (lambang dan kiasan), irama (rima, ritma dan metrum) dan tipografi.
Namun demikian, begitu banyak kemungkinan definisi tentang apa itu puisi. Jika kita membaca karya-karya berbau puitik seperti The Oddysey karya Homer yang dituliskan di era Yunani Kuno, maka kita akan berasumsi bahwa puisi adalah sebuah kisah petualangan atau suatu karya sastra pengembaraan. Jika kita membaca karya Chairil Anwar maka kita akan menyimpulkan bahwa puisi adalah permainan kalimat bermakna yang pendek dan kuat. Tetapi jika kita membaca sajak-sajak Afrilzal Malna, maka kita mungkin akan menganggap puisi adalah sebuah teka-teki makna yang tampak (oleh penyair) dituliskan secara semena-mena. Atau jika kita membaca karya penyair Pablo Neruda yang berjudul 100 Love Sonets (Seratus Soneta Cinta), maka kita akan membayangkan bahwa puisi lebih mungkin sebagai sebuah “novel aforistik”.
Mendefinisikan puisi tidak sekedar harus mejangkau begitu banyak kekuatan gaya-gaya puitik. Sebagai bayangan gaya puitik ada dalam bentuk soneta, mantraik, sufistik, pamflet, pantun, dadais dan sebagainya. Sebagai contoh, karya-karya puisi Wordsworth dijelaskan sebagai sajak spontan karena kekuatan emosi yang mengalir kuat dalam kata-katanya. Beberapa negara juga mempunya tradisi puitik masing-masing, seperti Jepang, Eropa, China, Arab, ataupun Indonesia. Di Indonesia saja, berbagai wilayah di Nusantara mempunyai tradisi etnopuitik (puisi etnik) yang berbeda-beda sesuai dengan etnik. Sebagai contoh di komunitas etnik Bugis Makassar terdapat model etnopuitik seperti “aru” atau “pasang” yang sangat khas.
Puisi juga kadang harus dihubungkan perubahan-perubahan ideologi pemikiran. Maka kita akan mengenal istilah puisi barok, puisi renaissance, puisi tradisional, puisi modern, puisi postmodern. Hal tersebut terkait dengan posisi puisi bukan sekedar sebagai seni murni tetapi juga sebagai sebuah instrumen pemikiran yang menunjukkan gaya berfikir yang berkembang pada masa puisi itu di lahirkan atau kekuatan gaya pemikiran apa yang mempengaruhi sang penyair.
Kadang puisi juga tidak cukup memuaskan jika didefiniskan secara akademik (ilmiah). Puisi menjadi sebuah definisi personal yang bisa saja dimiliki oleh siapapun yang “berhasil” mempersepsi sebuah karya puitik. Emily Dickinson, misalnya, pernah ditanya tentang apa itu puisi, dan ia menjawab “jika aku membaca sebuah buku dan buku itu tiba-tiba membuat tubuh saya menjadi dingin sekaligus terbakar hangat, maka saya yakin itu adalah buku puisi”. Demikian pula Thomas Dylan yang menjelaskan puisi sebagai “sesuatu yang membuat saya emosi saya berubah, membuat saya tertawa atau menangis atau menjadi lemah, yang menuntun saya ingin melakukan atau tidak ingin melakukan sesuatu”.
Puisi menjadi sebuah gaya dan teknik penggunaan kata dan makna. Ini tentu serupa dengan arsitektur membangun sebuah gaya rumah dengan teknik arsitektural dengan karakter tertentu. Seorang penyair besar seperti Dante, Neruda, Gibran, Rumi, Yeats, Chairil Anwar, Rendra, hingga Sutardji C. Bahri sesungguhnya adalah arsitek-arsitek kata dan makna yang mempunyai pola dan pendekatan masing-masing dalam memainkan kata-kata dan membentuk komposisi makna-makna.
Puisi selalu berkembang untuk lepas dari kemungkinan-kemungkinan didefinisikan. Tak ada definisi umum tentang sebuah puisi yang dapat secara tuntas dan akurat memberikan kepada kita pemahan tentangnya. Beberapa konsep analogis menarik tentang puisi menyatakan “puisi adalah bahasa yang dipahat pada makna”, “puisi adalah kuas makna penyair yang dilukiskan pada kanvas jiwa pembacanya”. Pendeknya, puisi selalu bergerak menjauh dari segala definisi-defini yang muncul. Itulah sebabnya segala bentuk definisi yang mengikat tentang puisi selalu gagal menjelaskan fenomena puisi baru yang muncul.
Tujuan dan bentuk puisi yang dituliskan para penyair selalu bergerak melampaui puisi yang telah ada. Tetapi yang pasti puisi adalah salah satu metode untuk menyatakan dunia. Bagaimana bentuk dan tujuan sebuah puisi dituliskan itu soal yang lebih detail lagi. Puisi mengisyaratkan sebuah petualangan bahasa yang tak berhenti. Definisi puisi tidak mungkin menghentikan gerakan-gerakan kreatif dan inovatif penyair untuk terus melampaui bentuk dan tujuan puisi yang telah ada. Pengembaran kreatif dalam membentuk emosi kata, membangun komposisi musical baru, membuat topografi, meengkreasi gaya bahasa, pembentukan kata baru, permainan diksi tak mungkin dihentikan dengan sebuah definisi tentang apa itu puisi.
Sebuah kemungkinan menarik untuk menjawab pertanyaan ontologis tentang apa itu puisi bisa didekati dengan berbagai kemungkinan ideologi. Kita hanya bisa melihat atau setidaknya menduga bahwa puisi adalah sebuah upaya respon terhadap dunia melalui model atau karakter sastra dalam bentuk puisi. Kita juga bisa melihat susupan pemahaman ideologi sastra yang memandang puisi secara berbeda, sebut saja eksistensialisme, marxisme, dadaisme dll. Secara resonansi waktu puisi pun dipahami berbeda dalam tradisi tradisional, modern, dan postmodernisme.
Perpsektif tradisionalisme berpendapat bahwa puisi adalah ekspresi dari sebuah visi yang diberikan dalam bentuk yang indah dan menyenangkan kepada orang lain dan mungkin membangkitkan emosi yang sama. Perspektif modernisme, berasumsi bahwa puisi adalah sebuah objek otonom yang mungkin atau mungkin tidak mencerminkan dunia nyata tetapi dibuat dalam bahasa yang dibuat khusus dengan referensi makna yang kompleks. Perspektif postmodernisme, memandang puisi sebagai kolase dari idiom yang menarik emosi tapi mandiri.
Salah satu cara lain memahami puisi adalah memandangnya sebagai salah satu bentuk genre sastra yang unik. Tentu puisi harus kita pahami sebagai sebuah model komposisi sastra yang berbeda dengan novel atau cerpen. Dengan memahami perbedaan puisi dengan komposisi sastra lainnya, setidaknya kita juga dapat mempunyai bayangan tentang apa itu puisi. Lalu, apa yang membedakan puisi dari komposisi sastra lainnya? Pertanyaan tersebut juga bisa “debatebel”. Intinya (tanpa bertujuan membangun sebuah definisi), puisi adalah sesuatu yang otonom bahkan hingga ditinggak individu puitik berupa sajak-sajak. Maka pada diri sajak-sajak itulah ia mendefinisikan dirinya. Setiap anda membaca satu puisi maka puisi itu sendiri yang akan mendefinisikan dirinya.
Tidak banyak cara praktis untuk mendefinisikan apa itu puisi. Definisi yang tersedia dalam dunia akademik, akan mengacu pada berbagai perspektif dalam lingkup estetika, teoris sastra, dan kritik sastra. Tetapi apapun perspektif yang digunakan dalam dunia akademik selalu beroperasi pada sebuah model komposisi puisi tertentu. Kadang banyak kasus, teori sastra atau kritik sastra diajukan untuk mengurai substansi dan esensi seuah puisi tetapi puisi itu sendiri mempertahankan kebenaran dirinya. Apakah puisi itu adalah sebuah puisi dengan kualitas sastra tinggi, rendah, atau sedang, selalu mempunyai kebenaran puitik didalam dirinya. Seberapa tegas sebuah teori sastra puisi atau kritik sastra puitik mengungkap eksistensi puisi, sebuah puisi selalu bertahan dengan kebenaran puitiknya sendiri-sendiri.
Lalu ada beberapa kemungkinan kita memahami kebenaran puitik yang mungkin juga sangat tidak memuaskan. Pertama puisi mungkin adalah sebuah seni sastra yang tidak terjelaskan. Statemen tersebut menjelaskan bahwa sebuah puisi adalah susunan kata-kata yang maknanya berada diluar dari kata-kata tersebut. bahkan kemungkinan lain dari sebuah puisi sebagai sastra yang tak terjelaskan adalah kemungkinan tidak dapat ditemukan wujudnya ketika dibaca tetapi dalam proses pasca pembacaan atau dalam sebuah refleksi setelah terbaca. Kemungkinan lain , sebagai kemungkinan kedua dalam memahami kebenaran puisi adalah memahami puisi sebagai sebuah tindakan penemuan. Argumentasi tersebut tentu terkait dengan apa yang dikemukakan seorang penyair bernama Skacel yang menyatakan bahwa “penyair tak pernah menuliskan puisi, penyair hanya menemukan puisi”. Sebuah derita atau kesedihan yang tampak dituliskan seorang penyair dalam puisinya sesungguhnya adalah derita dan kesedihan yang ditemukannya disuatu tampat didunianya. Maka kebenaran yang mungkin dari sebuah puisi adalah sebuah penemuan. Menulis puisi adalah sebuah kemungkinan dari tindakan penemuan. Dalam konteks ini kita bisa memilah kemungkinan kualitas penemuan sebagai cara memilah kualitas puisi. Puisi amatir, puisi populer, puisi anak-anak, atau puisi yang berkualitas sangat tergantung dari kualitas makna yang ditemukannya atau kualitas puitik yang ditemukannya.
Kebenaran lain yang mungkin terdapat dalam sebuah puisi adalah fase unik dari zaman atau karakter penyairnya. Kemungkinan ini terkait dengan sebuah gaya zaman atau karakter personal penyair. Pengalaman unik dan sebuah zaman yang khas tentu akan melahirkan puisi-puisi yang mengandung karakter kebenarannya sendiri. Pada perspektif itulah, kita akan menemukan sebuah kebenaran soneta yang khas dari jiwa seorang penyair idealis seperti Pablo Neruda, atau kita akan menemukan sebuah kebenaran dari puisi mantra yang ditulis oleh seorang penyair mistik seperti Sutardji Calzhoum Bachri, atau kita menemukan sebuah kebenaran misteri kata-kata dari puisi dadais dari seorang penyair absurd seperti Afrizal Malna.
Kemungkinan kebenaran yang keempat dari sebuah puisi adalah bahwa puisi tidak punya rumus, tidak punya cetakan, tidak punya resep, dan tidak punya motif. Maka sebuah puisi tidak mungkin diukur dalam konteks rumus, cetakan, resep, atau motif-motif puitik apapun. Sangat sulit untuk mengatakan bahwa karya-karya puisi Aslan Abidin lebih rendah dari kualitas puisi Afrizal Malna. Sangat tidak mungkin mengatakan bahwa karya-karya puisi Williams Butler Yeats yang pernah memenangkan Nobel bidang sastra jauh lebih baik dari karya-karya puisi Chairil Anwar yang tidak pernah memenangkan hadiah Nobel kesusasteraan. Semua puisi dibentuk dari rumus, cetakan, resep, dan motif yang berbeda.
Kemungkinan kebenaran yang kelima adalah puisi dibangun dengan kredo puitik subjektif dari masing-masing penyair. Visi kepenyairan menggambarkan sebuah visi kebenaran yang subjektif pada setiap puisi. Para penyair mempunyai cara pandang yang berbeda memahami apa itu puisi dan cara kerja yang berbeda dalam menggunakan puisi. Perbedaan-perbedaan tersebut bersandar pada kebenaran puitik masing-masing penyair.
Secara garis besar, puisi terbagi kedalam dua bentuk yaitu puisi lama dan puisi baru.
Puisi Lama
Puisi lama adalah puisi yang terikat oleh aturan-aturan. Aturan- aturan itu antara lain :
Jumlah kata dalam 1 baris
Jumlah baris dalam 1 bait
Persajakan (rima)
Banyak suku kata tiap baris
Irama
Ciri puisi lama:
Merupakan puisi rakyat yang tak dikenal nama pengarangnya.
Disampaikan lewat mulut ke mulut, jadi merupakan sastra lisan.
Sangat terikat oleh aturan-aturan seperti jumlah baris tiap bait, jumlah suku kata maupun rima.
Jenis-jenis puisi lama
Mantra adalah ucapan-ucapan yang dianggap memiliki kekuatan gaib.
Pantun adalah puisi yang bercirikan bersajak a-b-a-b, tiap bait 4 baris, tiap baris terdiri dari 8-
Karmina adalah pantun kilat seperti pantun tetapi pendek.
Seloka adalah pantun berkait.
Gurindam adalah puisi yang berdirikan tiap bait 2 baris, bersajak a-a-a-a, berisi nasihat.
Syair adalah puisi yang bersumber dari Arab dengan ciri tiap bait 4 baris, bersajak a-a-a-a, berisi nasihat atau cerita.
Talibun adalah pantun genap yang tiap bait terdiri dari 6, 8, ataupun 10 baris.
Puisi Baru
Puisi baru bentuknya lebih bebas daripada puisi lama baik dalam segi jumlah baris, suku kata, maupun rima.
Ciri-ciri Puisi Baru:
1. Bentuknya rapi, simetris;
2. Mempunyai persajakan akhir (yang teratur);
3. Banyak mempergunakan pola sajak pantun dan syair meskipun ada pola yang lain;
4. Sebagian besar puisi empat seuntai;
5. Tiap-tiap barisnya atas sebuah gatra (kesatuan sintaksis)
6. Tiap gatranya terdiri atas dua kata (sebagian besar) : 4-5 suku kata.
Jenis-jenis Puisi Baru Menurut isinya, puisi dibedakan atas :
Balada adalah puisi berisi kisah/cerita. Balada jenis ini terdiri dari 3 (tiga) bait, masing-masing dengan 8 (delapan) larik dengan skema rima a-b-a-b-b-c-c-b. Kemudian skema rima berubah menjadi a-b-a-b-b-c-b-c. Larik terakhir dalam bait pertama digunakan sebagai refren dalam bait-bait berikutnya. Contoh: Puisi karya Sapardi Djoko Damono yang berjudul “Balada Matinya Seorang Pemberontak”.
Himne adalah puisi pujaan untuk Tuhan, tanah air, atau pahlawan. Ciri-cirinya adalah lagu pujian untuk menghormati seorang dewa, Tuhan, seorang pahlawan, tanah air, atau almamater (Pemandu di Dunia Sastra). Sekarang ini, pengertian himne menjadi berkembang. Himne diartikan sebagai puisi yang dinyanyikan, berisi pujian terhadap sesuatu yang dihormati (guru, pahlawan, dewa, Tuhan) yang bernapaskan ketuhanan.
Ode adalah puisi sanjungan untuk orang yang berjasa. Nada dan gayanya sangat resmi (metrumnya ketat), bernada anggun, membahas sesuatu yang mulia, bersifat menyanjung baik terhadap pribadi tertentu atau peristiwa umum.
Epigram adalah puisi yang berisi tuntunan/ajaran hidup. Epigram berasal dari Bahasa Yunani epigramma yang berarti unsur pengajaran; didaktik; nasihat membawa ke arah kebenaran untuk dijadikan pedoman, ikhtibar; ada teladan.
Romansa adalah puisi yang berisi luapan perasaan cinta kasih. Berasal dari bahasa Perancis Romantique yang berarti keindahan perasaan; persoalan kasih sayang, rindu dendam, serta kasih mesra
Elegi adalah puisi yang berisi ratap tangis/kesedihan. Berisi sajak atau lagu yang mengungkapkan rasa duka atau keluh kesah karena sedih atau rindu, terutama karena kematian/kepergian seseorang.
Satire adalah puisi yang berisi sindiran/kritik. Berasal dari bahasa Latin Satura yang berarti sindiran; kecaman tajam terhadap sesuatu fenomena; tidak puas hati satu golongan ke atas pemimpin yang pura-pura, rasuah, zalim
Sedangkan macam-macam puisi baru dilihat dari bentuknya antara lain:
Distikon, adalah puisi yang tiap baitnya terdiri atas dua baris (puisi dua seuntai).
Terzina, puisi yang tiap baitnya terdiri atas tiga baris (puisi tiga seuntai).
Kuatrain, puisi yang tiap baitnya terdiri atas empat baris (puisi empat seuntai).
Kuint, adalah puisi yang tiap baitnya terdiri atas lima baris (puisi lima seuntai).
Sektet, adalah puisi yang tiap baitnya terdiri atas enam baris (puisi enam seuntai).
Septime, adalah puisi yang tiap baitnya terdiri atas tujuh baris (tujuh seuntai).
Oktaf/Stanza, adalah puisi yang tiap baitnya terdiri atas delapan baris (double kutrain atau puisi delapan seuntai).
Soneta, adalah puisi yang terdiri atas empat belas baris yang terbagi menjadi dua, dua bait pertama masing-masing empat baris dan dua bait kedua masing-masing tiga baris. Soneta berasal dari kata sonneto (Bahasa Italia) perubahan dari kata sono yang berarti suara. Jadi soneta adalah puisi yang bersuara. Di Indonesia, soneta masuk dari negeri Belandadiperkenalkan olehMuhammad Yamin dan Roestam Effendi, karena itulah mereka berdualah yang dianggap sebagai ”Pelopor/Bapak Soneta Indonesia”. Bentuk soneta Indonesia tidak lagi tunduk pada syarat-syarat soneta Italia atau Inggris, tetapi lebih mempunyai kebebasan dalam segi isi maupun rimanya. Yang menjadi pegangan adalah jumlah barisnya (empat belas baris).
Sumber: https://sufistikkata.wordpress.com/2014/11/24/hakikat-puisi/
Hahekat Puisi
Seorang kritikus sastra yang terkenal LA Richard, bahwa puisi mengandung suatu “makna keseluruhan” yang merupakan perpaduan dari tema (mengenai inti pokok puisi tsb), perasaan (sikap sang penyair terhadap bahan atau obyeknya), nada (sikap sang penyair terhadap pembaca /penikmatnya), dan amanat ( maksud atau tujuan sang penyair). Sehingga dapat kita simpulkan semua itu disebut dengan hakekat puisi yang bersifat catur tunggal. Dalam puisi haruslah terdapat “subject matter” untuk dikemukakan atau ditonjolkan antara lain yaitu : falsafah hidup, lingkungan, agama, pekerjaan, dan pendidikan sang penyair.
Lahirnya Sebuah Puisi
Dalam penciptaan puisi ini Stephen Spender mengemukakan suatu pendapat tentang unsur-unsur yang diperlukan dalam menciptakan sebuah puisi. Pendapatnya antara lain :
Konsentrasi (terdiri atas konsentrasi langsung yang sempurna, dan konsentrasi lamban yang disempurnakan secara lambat).
Inspirasi (ilham dan bisikan).
Kenangan (memory).
Keyakinan (faith)
Lagu (song).
Metode Puisi
Pada umumnya para penyair akan mengatakan “puisi mengajarkan sebanyak mungkin dengan kata atau kombinasi kata sesedikit mungkin.” Dengan kata lain : dengan kata-kata yang sesedikit mungkin ingin melukiskan/mengajarkan atau mengatakan sesuatu dengan jelas dan seluas mungkin. Tetapi yang penting di sini yaitu : bila untuk memecahkan maksud di atas maka mau tidak mau diperlukan suatu metode yang baik beserta sarana-sarana yang diperlukan, yaitu :
Diksi (diction): pilihan kata.
Imaji (Imagary): segala sesuatu yang dialami secara imajinatif.
Kata nyata (concrete): kata yang konkret dan khusus.
Majas (figurative language): bahasa kias atau gaya bahasa.
Ritme (irama): turun naiknya suara secara teratur.
Rima (sajak): persamaan bunyi.
Sumber: https://wyw1d.wordpress.com/2009/12/09/metode-puisi/
Daftar Pustaka
Bursan, Zukhidayat Ilham. 2014. HAKIKAT PUISI. Dalam
https://sufistikkata.wordpress.com/2014/11/24/hakikat-puisi/
(diakses 24 November 2014)
Widodo, Rachmad. 2009. METODE PUISI.Dalam
https://wyw1d.wordpress.com/2009/12/09/metode-puisi/
(diakses 9 Desember 2009)
Dosen Pembimbing
M. Shoim Anwar
Oleh
Kelompok 4 (2016-B)
Rif’atul Laily R. 165200044
Prasthika Ayu P. W. 165200054
Nining Mahmudah 165200092
Galang Adi C. H. 165200094
UNIVERSITAS PGRI ADI BUANA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
SURABAYA
2017
Kata ”puisi “ berasal dari bahsa Yunani “poieo atau “poio” atau “poetes” yang berarti membangun, menyebabkan, membuat puisi. Poetes berarti pembuat puisi atau penyair. Secara etimologi, puisi berarti ucapan yang dibuat atau dibangun; maksudnya ucapan yang tidak langsung. Jika dibandingkan antara prosa dan puisi, maka nampak bahwa puisi adalah pengkonsentrasian. Puisi mengonsentrasikan pada dirinya segala perasaan, kesan dan kesenangan dalam pengucapan yang ketat. Puisi merupakan ungkapan perasaan, kesan atau kenangan dengan pengucapan yang memusat (cosentrated) padat dan intensif. Oleh karena itu isi puisi secara penuh tanpa mengetahui dan menyadari bahwa puisi itu karya estetis yang bermakna, memunyai arti, dan bukan sesuatu yang kosong tanpa makna.
Puisi sebagai karya sastra puitis sudah pasti mengandung arti keindahan yang khusus untuk puisi. Sulit memberikan definisi puitis, sulit pula menguraikan bagaimana sifat-sifat yang disebut puitis. Sesuatu (khususnya puisi) disebut puitis jika dapat membangkitkan perasaan, menarik perhatian, menimbulkan tanggapan yang jelas, dan secara umum bila hal itu menumbuhkan keharuan.Untuk memberikan defenisi tepat mengenai puisi memang tidaklah mudah. Di bawah ini disampaikan pengertian puisi menurut ahli sebagai berikut:
“Menurut Suminto dalam Setiawan, puisi adalah suatu bentuk pengucapan bahasa yang memperhitungkan adanya aspek buyi-buyi di dalamnya, yang mengungkapkan pengalaman imajinatif, emosional dan intelektual penyair yang ditimba dari kehidupan individual dan sosialnya : yang diungkapkan dengan teknik pilihan tertentu, sehingga puisi itu mampu membangkitkan pengalaman tertentu pula dalam diri pembaca atau pendengarnya.”
“Menurut Sayuti dalam Setiawan, puisi merupakan pengucapan bahasa yang memperhitungkan adanya aspekaspek bunyi di dalamnya, yang mengungkapkan pengalaman imajinatif, emosional, dan intelektual penyair yang ditimba dari kenidupan individu dan sosialnya : yang diungkapkan dengan teknik tertentu sehingga puisi itu dapat membangkitkan pengalaman tertentu pula dalam diri pembaca atau pendengarnya.”
Penjelasan di atas memberikan pemahaman bahwa puisi merupakan suatu ungkapan perasaan penulis itu sendiri, ungkapan perasaan itu bisa berupa perasaan kagum, benci, rindu, bahagia, sedih yang diungkapkan dengan kata-kata yang puitis (indah). Unsur-unsur pembangun puisi menurut Gandi, bahwa puisi terdiri dari struktur fisik dan struktur batin puisi. Struktur puisi ini merupakan medium pengungkap struktur batin puisi. Adapun unsur-unsur yang termasuk dalam struktur fisik puisi adalah diksi, citraan (pengimajian), kata konkret, majas (lambang dan kiasan), irama (rima, ritma dan metrum) dan tipografi.
Namun demikian, begitu banyak kemungkinan definisi tentang apa itu puisi. Jika kita membaca karya-karya berbau puitik seperti The Oddysey karya Homer yang dituliskan di era Yunani Kuno, maka kita akan berasumsi bahwa puisi adalah sebuah kisah petualangan atau suatu karya sastra pengembaraan. Jika kita membaca karya Chairil Anwar maka kita akan menyimpulkan bahwa puisi adalah permainan kalimat bermakna yang pendek dan kuat. Tetapi jika kita membaca sajak-sajak Afrilzal Malna, maka kita mungkin akan menganggap puisi adalah sebuah teka-teki makna yang tampak (oleh penyair) dituliskan secara semena-mena. Atau jika kita membaca karya penyair Pablo Neruda yang berjudul 100 Love Sonets (Seratus Soneta Cinta), maka kita akan membayangkan bahwa puisi lebih mungkin sebagai sebuah “novel aforistik”.
Mendefinisikan puisi tidak sekedar harus mejangkau begitu banyak kekuatan gaya-gaya puitik. Sebagai bayangan gaya puitik ada dalam bentuk soneta, mantraik, sufistik, pamflet, pantun, dadais dan sebagainya. Sebagai contoh, karya-karya puisi Wordsworth dijelaskan sebagai sajak spontan karena kekuatan emosi yang mengalir kuat dalam kata-katanya. Beberapa negara juga mempunya tradisi puitik masing-masing, seperti Jepang, Eropa, China, Arab, ataupun Indonesia. Di Indonesia saja, berbagai wilayah di Nusantara mempunyai tradisi etnopuitik (puisi etnik) yang berbeda-beda sesuai dengan etnik. Sebagai contoh di komunitas etnik Bugis Makassar terdapat model etnopuitik seperti “aru” atau “pasang” yang sangat khas.
Puisi juga kadang harus dihubungkan perubahan-perubahan ideologi pemikiran. Maka kita akan mengenal istilah puisi barok, puisi renaissance, puisi tradisional, puisi modern, puisi postmodern. Hal tersebut terkait dengan posisi puisi bukan sekedar sebagai seni murni tetapi juga sebagai sebuah instrumen pemikiran yang menunjukkan gaya berfikir yang berkembang pada masa puisi itu di lahirkan atau kekuatan gaya pemikiran apa yang mempengaruhi sang penyair.
Kadang puisi juga tidak cukup memuaskan jika didefiniskan secara akademik (ilmiah). Puisi menjadi sebuah definisi personal yang bisa saja dimiliki oleh siapapun yang “berhasil” mempersepsi sebuah karya puitik. Emily Dickinson, misalnya, pernah ditanya tentang apa itu puisi, dan ia menjawab “jika aku membaca sebuah buku dan buku itu tiba-tiba membuat tubuh saya menjadi dingin sekaligus terbakar hangat, maka saya yakin itu adalah buku puisi”. Demikian pula Thomas Dylan yang menjelaskan puisi sebagai “sesuatu yang membuat saya emosi saya berubah, membuat saya tertawa atau menangis atau menjadi lemah, yang menuntun saya ingin melakukan atau tidak ingin melakukan sesuatu”.
Puisi menjadi sebuah gaya dan teknik penggunaan kata dan makna. Ini tentu serupa dengan arsitektur membangun sebuah gaya rumah dengan teknik arsitektural dengan karakter tertentu. Seorang penyair besar seperti Dante, Neruda, Gibran, Rumi, Yeats, Chairil Anwar, Rendra, hingga Sutardji C. Bahri sesungguhnya adalah arsitek-arsitek kata dan makna yang mempunyai pola dan pendekatan masing-masing dalam memainkan kata-kata dan membentuk komposisi makna-makna.
Puisi selalu berkembang untuk lepas dari kemungkinan-kemungkinan didefinisikan. Tak ada definisi umum tentang sebuah puisi yang dapat secara tuntas dan akurat memberikan kepada kita pemahan tentangnya. Beberapa konsep analogis menarik tentang puisi menyatakan “puisi adalah bahasa yang dipahat pada makna”, “puisi adalah kuas makna penyair yang dilukiskan pada kanvas jiwa pembacanya”. Pendeknya, puisi selalu bergerak menjauh dari segala definisi-defini yang muncul. Itulah sebabnya segala bentuk definisi yang mengikat tentang puisi selalu gagal menjelaskan fenomena puisi baru yang muncul.
Tujuan dan bentuk puisi yang dituliskan para penyair selalu bergerak melampaui puisi yang telah ada. Tetapi yang pasti puisi adalah salah satu metode untuk menyatakan dunia. Bagaimana bentuk dan tujuan sebuah puisi dituliskan itu soal yang lebih detail lagi. Puisi mengisyaratkan sebuah petualangan bahasa yang tak berhenti. Definisi puisi tidak mungkin menghentikan gerakan-gerakan kreatif dan inovatif penyair untuk terus melampaui bentuk dan tujuan puisi yang telah ada. Pengembaran kreatif dalam membentuk emosi kata, membangun komposisi musical baru, membuat topografi, meengkreasi gaya bahasa, pembentukan kata baru, permainan diksi tak mungkin dihentikan dengan sebuah definisi tentang apa itu puisi.
Sebuah kemungkinan menarik untuk menjawab pertanyaan ontologis tentang apa itu puisi bisa didekati dengan berbagai kemungkinan ideologi. Kita hanya bisa melihat atau setidaknya menduga bahwa puisi adalah sebuah upaya respon terhadap dunia melalui model atau karakter sastra dalam bentuk puisi. Kita juga bisa melihat susupan pemahaman ideologi sastra yang memandang puisi secara berbeda, sebut saja eksistensialisme, marxisme, dadaisme dll. Secara resonansi waktu puisi pun dipahami berbeda dalam tradisi tradisional, modern, dan postmodernisme.
Perpsektif tradisionalisme berpendapat bahwa puisi adalah ekspresi dari sebuah visi yang diberikan dalam bentuk yang indah dan menyenangkan kepada orang lain dan mungkin membangkitkan emosi yang sama. Perspektif modernisme, berasumsi bahwa puisi adalah sebuah objek otonom yang mungkin atau mungkin tidak mencerminkan dunia nyata tetapi dibuat dalam bahasa yang dibuat khusus dengan referensi makna yang kompleks. Perspektif postmodernisme, memandang puisi sebagai kolase dari idiom yang menarik emosi tapi mandiri.
Salah satu cara lain memahami puisi adalah memandangnya sebagai salah satu bentuk genre sastra yang unik. Tentu puisi harus kita pahami sebagai sebuah model komposisi sastra yang berbeda dengan novel atau cerpen. Dengan memahami perbedaan puisi dengan komposisi sastra lainnya, setidaknya kita juga dapat mempunyai bayangan tentang apa itu puisi. Lalu, apa yang membedakan puisi dari komposisi sastra lainnya? Pertanyaan tersebut juga bisa “debatebel”. Intinya (tanpa bertujuan membangun sebuah definisi), puisi adalah sesuatu yang otonom bahkan hingga ditinggak individu puitik berupa sajak-sajak. Maka pada diri sajak-sajak itulah ia mendefinisikan dirinya. Setiap anda membaca satu puisi maka puisi itu sendiri yang akan mendefinisikan dirinya.
Tidak banyak cara praktis untuk mendefinisikan apa itu puisi. Definisi yang tersedia dalam dunia akademik, akan mengacu pada berbagai perspektif dalam lingkup estetika, teoris sastra, dan kritik sastra. Tetapi apapun perspektif yang digunakan dalam dunia akademik selalu beroperasi pada sebuah model komposisi puisi tertentu. Kadang banyak kasus, teori sastra atau kritik sastra diajukan untuk mengurai substansi dan esensi seuah puisi tetapi puisi itu sendiri mempertahankan kebenaran dirinya. Apakah puisi itu adalah sebuah puisi dengan kualitas sastra tinggi, rendah, atau sedang, selalu mempunyai kebenaran puitik didalam dirinya. Seberapa tegas sebuah teori sastra puisi atau kritik sastra puitik mengungkap eksistensi puisi, sebuah puisi selalu bertahan dengan kebenaran puitiknya sendiri-sendiri.
Lalu ada beberapa kemungkinan kita memahami kebenaran puitik yang mungkin juga sangat tidak memuaskan. Pertama puisi mungkin adalah sebuah seni sastra yang tidak terjelaskan. Statemen tersebut menjelaskan bahwa sebuah puisi adalah susunan kata-kata yang maknanya berada diluar dari kata-kata tersebut. bahkan kemungkinan lain dari sebuah puisi sebagai sastra yang tak terjelaskan adalah kemungkinan tidak dapat ditemukan wujudnya ketika dibaca tetapi dalam proses pasca pembacaan atau dalam sebuah refleksi setelah terbaca. Kemungkinan lain , sebagai kemungkinan kedua dalam memahami kebenaran puisi adalah memahami puisi sebagai sebuah tindakan penemuan. Argumentasi tersebut tentu terkait dengan apa yang dikemukakan seorang penyair bernama Skacel yang menyatakan bahwa “penyair tak pernah menuliskan puisi, penyair hanya menemukan puisi”. Sebuah derita atau kesedihan yang tampak dituliskan seorang penyair dalam puisinya sesungguhnya adalah derita dan kesedihan yang ditemukannya disuatu tampat didunianya. Maka kebenaran yang mungkin dari sebuah puisi adalah sebuah penemuan. Menulis puisi adalah sebuah kemungkinan dari tindakan penemuan. Dalam konteks ini kita bisa memilah kemungkinan kualitas penemuan sebagai cara memilah kualitas puisi. Puisi amatir, puisi populer, puisi anak-anak, atau puisi yang berkualitas sangat tergantung dari kualitas makna yang ditemukannya atau kualitas puitik yang ditemukannya.
Kebenaran lain yang mungkin terdapat dalam sebuah puisi adalah fase unik dari zaman atau karakter penyairnya. Kemungkinan ini terkait dengan sebuah gaya zaman atau karakter personal penyair. Pengalaman unik dan sebuah zaman yang khas tentu akan melahirkan puisi-puisi yang mengandung karakter kebenarannya sendiri. Pada perspektif itulah, kita akan menemukan sebuah kebenaran soneta yang khas dari jiwa seorang penyair idealis seperti Pablo Neruda, atau kita akan menemukan sebuah kebenaran dari puisi mantra yang ditulis oleh seorang penyair mistik seperti Sutardji Calzhoum Bachri, atau kita menemukan sebuah kebenaran misteri kata-kata dari puisi dadais dari seorang penyair absurd seperti Afrizal Malna.
Kemungkinan kebenaran yang keempat dari sebuah puisi adalah bahwa puisi tidak punya rumus, tidak punya cetakan, tidak punya resep, dan tidak punya motif. Maka sebuah puisi tidak mungkin diukur dalam konteks rumus, cetakan, resep, atau motif-motif puitik apapun. Sangat sulit untuk mengatakan bahwa karya-karya puisi Aslan Abidin lebih rendah dari kualitas puisi Afrizal Malna. Sangat tidak mungkin mengatakan bahwa karya-karya puisi Williams Butler Yeats yang pernah memenangkan Nobel bidang sastra jauh lebih baik dari karya-karya puisi Chairil Anwar yang tidak pernah memenangkan hadiah Nobel kesusasteraan. Semua puisi dibentuk dari rumus, cetakan, resep, dan motif yang berbeda.
Kemungkinan kebenaran yang kelima adalah puisi dibangun dengan kredo puitik subjektif dari masing-masing penyair. Visi kepenyairan menggambarkan sebuah visi kebenaran yang subjektif pada setiap puisi. Para penyair mempunyai cara pandang yang berbeda memahami apa itu puisi dan cara kerja yang berbeda dalam menggunakan puisi. Perbedaan-perbedaan tersebut bersandar pada kebenaran puitik masing-masing penyair.
Secara garis besar, puisi terbagi kedalam dua bentuk yaitu puisi lama dan puisi baru.
Puisi Lama
Puisi lama adalah puisi yang terikat oleh aturan-aturan. Aturan- aturan itu antara lain :
Jumlah kata dalam 1 baris
Jumlah baris dalam 1 bait
Persajakan (rima)
Banyak suku kata tiap baris
Irama
Ciri puisi lama:
Merupakan puisi rakyat yang tak dikenal nama pengarangnya.
Disampaikan lewat mulut ke mulut, jadi merupakan sastra lisan.
Sangat terikat oleh aturan-aturan seperti jumlah baris tiap bait, jumlah suku kata maupun rima.
Jenis-jenis puisi lama
Mantra adalah ucapan-ucapan yang dianggap memiliki kekuatan gaib.
Pantun adalah puisi yang bercirikan bersajak a-b-a-b, tiap bait 4 baris, tiap baris terdiri dari 8-
Karmina adalah pantun kilat seperti pantun tetapi pendek.
Seloka adalah pantun berkait.
Gurindam adalah puisi yang berdirikan tiap bait 2 baris, bersajak a-a-a-a, berisi nasihat.
Syair adalah puisi yang bersumber dari Arab dengan ciri tiap bait 4 baris, bersajak a-a-a-a, berisi nasihat atau cerita.
Talibun adalah pantun genap yang tiap bait terdiri dari 6, 8, ataupun 10 baris.
Puisi Baru
Puisi baru bentuknya lebih bebas daripada puisi lama baik dalam segi jumlah baris, suku kata, maupun rima.
Ciri-ciri Puisi Baru:
1. Bentuknya rapi, simetris;
2. Mempunyai persajakan akhir (yang teratur);
3. Banyak mempergunakan pola sajak pantun dan syair meskipun ada pola yang lain;
4. Sebagian besar puisi empat seuntai;
5. Tiap-tiap barisnya atas sebuah gatra (kesatuan sintaksis)
6. Tiap gatranya terdiri atas dua kata (sebagian besar) : 4-5 suku kata.
Jenis-jenis Puisi Baru Menurut isinya, puisi dibedakan atas :
Balada adalah puisi berisi kisah/cerita. Balada jenis ini terdiri dari 3 (tiga) bait, masing-masing dengan 8 (delapan) larik dengan skema rima a-b-a-b-b-c-c-b. Kemudian skema rima berubah menjadi a-b-a-b-b-c-b-c. Larik terakhir dalam bait pertama digunakan sebagai refren dalam bait-bait berikutnya. Contoh: Puisi karya Sapardi Djoko Damono yang berjudul “Balada Matinya Seorang Pemberontak”.
Himne adalah puisi pujaan untuk Tuhan, tanah air, atau pahlawan. Ciri-cirinya adalah lagu pujian untuk menghormati seorang dewa, Tuhan, seorang pahlawan, tanah air, atau almamater (Pemandu di Dunia Sastra). Sekarang ini, pengertian himne menjadi berkembang. Himne diartikan sebagai puisi yang dinyanyikan, berisi pujian terhadap sesuatu yang dihormati (guru, pahlawan, dewa, Tuhan) yang bernapaskan ketuhanan.
Ode adalah puisi sanjungan untuk orang yang berjasa. Nada dan gayanya sangat resmi (metrumnya ketat), bernada anggun, membahas sesuatu yang mulia, bersifat menyanjung baik terhadap pribadi tertentu atau peristiwa umum.
Epigram adalah puisi yang berisi tuntunan/ajaran hidup. Epigram berasal dari Bahasa Yunani epigramma yang berarti unsur pengajaran; didaktik; nasihat membawa ke arah kebenaran untuk dijadikan pedoman, ikhtibar; ada teladan.
Romansa adalah puisi yang berisi luapan perasaan cinta kasih. Berasal dari bahasa Perancis Romantique yang berarti keindahan perasaan; persoalan kasih sayang, rindu dendam, serta kasih mesra
Elegi adalah puisi yang berisi ratap tangis/kesedihan. Berisi sajak atau lagu yang mengungkapkan rasa duka atau keluh kesah karena sedih atau rindu, terutama karena kematian/kepergian seseorang.
Satire adalah puisi yang berisi sindiran/kritik. Berasal dari bahasa Latin Satura yang berarti sindiran; kecaman tajam terhadap sesuatu fenomena; tidak puas hati satu golongan ke atas pemimpin yang pura-pura, rasuah, zalim
Sedangkan macam-macam puisi baru dilihat dari bentuknya antara lain:
Distikon, adalah puisi yang tiap baitnya terdiri atas dua baris (puisi dua seuntai).
Terzina, puisi yang tiap baitnya terdiri atas tiga baris (puisi tiga seuntai).
Kuatrain, puisi yang tiap baitnya terdiri atas empat baris (puisi empat seuntai).
Kuint, adalah puisi yang tiap baitnya terdiri atas lima baris (puisi lima seuntai).
Sektet, adalah puisi yang tiap baitnya terdiri atas enam baris (puisi enam seuntai).
Septime, adalah puisi yang tiap baitnya terdiri atas tujuh baris (tujuh seuntai).
Oktaf/Stanza, adalah puisi yang tiap baitnya terdiri atas delapan baris (double kutrain atau puisi delapan seuntai).
Soneta, adalah puisi yang terdiri atas empat belas baris yang terbagi menjadi dua, dua bait pertama masing-masing empat baris dan dua bait kedua masing-masing tiga baris. Soneta berasal dari kata sonneto (Bahasa Italia) perubahan dari kata sono yang berarti suara. Jadi soneta adalah puisi yang bersuara. Di Indonesia, soneta masuk dari negeri Belandadiperkenalkan olehMuhammad Yamin dan Roestam Effendi, karena itulah mereka berdualah yang dianggap sebagai ”Pelopor/Bapak Soneta Indonesia”. Bentuk soneta Indonesia tidak lagi tunduk pada syarat-syarat soneta Italia atau Inggris, tetapi lebih mempunyai kebebasan dalam segi isi maupun rimanya. Yang menjadi pegangan adalah jumlah barisnya (empat belas baris).
Sumber: https://sufistikkata.wordpress.com/2014/11/24/hakikat-puisi/
Hahekat Puisi
Seorang kritikus sastra yang terkenal LA Richard, bahwa puisi mengandung suatu “makna keseluruhan” yang merupakan perpaduan dari tema (mengenai inti pokok puisi tsb), perasaan (sikap sang penyair terhadap bahan atau obyeknya), nada (sikap sang penyair terhadap pembaca /penikmatnya), dan amanat ( maksud atau tujuan sang penyair). Sehingga dapat kita simpulkan semua itu disebut dengan hakekat puisi yang bersifat catur tunggal. Dalam puisi haruslah terdapat “subject matter” untuk dikemukakan atau ditonjolkan antara lain yaitu : falsafah hidup, lingkungan, agama, pekerjaan, dan pendidikan sang penyair.
Lahirnya Sebuah Puisi
Dalam penciptaan puisi ini Stephen Spender mengemukakan suatu pendapat tentang unsur-unsur yang diperlukan dalam menciptakan sebuah puisi. Pendapatnya antara lain :
Konsentrasi (terdiri atas konsentrasi langsung yang sempurna, dan konsentrasi lamban yang disempurnakan secara lambat).
Inspirasi (ilham dan bisikan).
Kenangan (memory).
Keyakinan (faith)
Lagu (song).
Metode Puisi
Pada umumnya para penyair akan mengatakan “puisi mengajarkan sebanyak mungkin dengan kata atau kombinasi kata sesedikit mungkin.” Dengan kata lain : dengan kata-kata yang sesedikit mungkin ingin melukiskan/mengajarkan atau mengatakan sesuatu dengan jelas dan seluas mungkin. Tetapi yang penting di sini yaitu : bila untuk memecahkan maksud di atas maka mau tidak mau diperlukan suatu metode yang baik beserta sarana-sarana yang diperlukan, yaitu :
Diksi (diction): pilihan kata.
Imaji (Imagary): segala sesuatu yang dialami secara imajinatif.
Kata nyata (concrete): kata yang konkret dan khusus.
Majas (figurative language): bahasa kias atau gaya bahasa.
Ritme (irama): turun naiknya suara secara teratur.
Rima (sajak): persamaan bunyi.
Sumber: https://wyw1d.wordpress.com/2009/12/09/metode-puisi/
Daftar Pustaka
Bursan, Zukhidayat Ilham. 2014. HAKIKAT PUISI. Dalam
https://sufistikkata.wordpress.com/2014/11/24/hakikat-puisi/
(diakses 24 November 2014)
Widodo, Rachmad. 2009. METODE PUISI.Dalam
https://wyw1d.wordpress.com/2009/12/09/metode-puisi/
(diakses 9 Desember 2009)
Komentar
Posting Komentar